Keris Berpamor Besi Meteorit

Posted: Sunday, August 31, 2008 by admin in Labels:
4

Oleh Jimmy S Harianto

Benda angkasa yang jatuh dari langit jika masih tersisa di atas bumi dianggap sebagai benda ampuh. Tak heran, jika benda yang pernah melewati jarak ribuan, bahkan jutaan kilometer dan nyaris terbakar habis ketika memasuki atmosfer bumi ini, lalu dipakai oleh orang masa lalu sebagai bahan pembuat pamor keris.

Tergerak oleh cerita bahwa keris-keris tua pada masa lalu ada yang menggunakan bahan pamor dari ”benda langit yang gaib” meteor, maka Ferry Febrianto—penggemar keris yang kebetulan seorang insinyur—menjelajahi dunia maya, berkomunikasi dengan komunitas kolektor meteor, dan membolak-balik buku kepustakaan tentang benda langit meteor lebih dari tiga tahun.

Intinya, dia ingin membuat keris dengan bahan pamor meteor sungguhan. (Pamor adalah guratan motif yang muncul dari hasil lipatan besi yang ditempa, biasanya beda warna). Meteor yang nyata-nyata bersertifikat dan ia tahu persis apa jenisnya, tempat jatuhnya, serta karakteristiknya.

Selama ini orang percaya bahwa pada masa lalu banyak keris tua memakai bahan pamor besi meteor yang jatuh di Prambanan pada abad ke-19. Akan tetapi, kesulitannya, ”meteor” jenisnya apa ini dan sebenarnya kapan persisnya benda langit itu jatuh di wilayah Prambanan, tak ada catatan ilmiahnya. (Sisa-sisa bongkahan yang ada sekitar 15 kg dan dipercaya sisa meteor Prambanan itu masih disimpan, dikeramatkan di Keraton Surakarta dengan julukan Kanjeng Kiai Pamor).

Karena batu pamor yang bersertifikat nilainya mahal, Ferry pun mencari kawan untuk menanggung bersama biaya eksperimen ”keris berpamor meteorit” ini. Jatuhlah pilihan kepada sesama penggemar keris yang berbeda profesi dengannya. Mereka adalah Dr Dharmawan Witjaksono SpPD (dokter) dan Dipl Ing Stanley Hendrawidjaja Arch (arsitek).

”Harga besi meteor di tangan kolektor sekitar 2 dollar AS (hampir Rp 20.000) per gram,” ujar Ferry. Sekitar 100 gram besi meteor, menurut Ferry, bisa dipakai untuk bahan pamor tiga keris. Meteor itu ia pesan via internet melalui kolektor meteor, Jack Lacroix. Ada tiga keping besi meteorit bersertifikat yang akan dipakai (jenis kamasite, kategorinya coarse atau kasar), seberat sekitar 600 gram. Besi meteorit berasal dari meteor yang jatuh di Campo del Cielo, Argentina.

”Menurut info dari James Hroulias (ahli metalurgi yang juga ahli tempa besi bersertifikat dari AS), menempa besi meteorit merupakan proses berisiko tinggi, dengan tingkat kegagalan mencapai 9 dari 10 kasus,” tutur Ferry. Menurut James yang ahli pembuat pisau, besi meteorit kalau dipijar dan ditempa begitu saja akan hancur berantakan.

Karena itu, Ferry berkonsultasi dengan seorang empu keris berpengalaman—yang pernah menjadi empu Keraton Surakarta, Empu Pauzan Puspasukadgo dari Solo. (Seorang penggemar keris dari Australia, Alan Massey, pada tahun 1996 pernah melakukan eksperimen ini, memesan keris dengan bahan besi meteorit yang ia bawa. Keris berpamor meteorit ini kemudian digarap oleh empu muda, Yohannes Yantono, di Palur, Solo—lihat Kompas, Selasa, 20 Agustus 1996).

Harus ”ditapih”

Inilah sebuah teknologi tempa, yang mungkin dulu juga dipakai oleh empu-empu kita pada masa lalu. Supaya lempengan besi meteorit tidak hancur berantakan, lempeng-lempeng besi meteor itu harus ”ditapih”. Maksudnya, lempeng-lempeng meteor itu dibungkus besi, baru kemudian dipijar di bara api arang kayu jati—lebih dari 1.000 derajat Celsius—lalu ditempa.

”Tapih” adalah kain sarung, yang biasa dipakai untuk membungkus bagian bawah badan manusia tradisional Jawa. Teknik tempa ”menapih” seperti kain sarung inilah yang dipakai (Empu Solo) Daliman dan tiga panjaknya (pembantu tempa) untuk membuat bahan pamor dari meteor Argentina itu.

Bakalan saton (tempaan lempeng besi yang sudah mengandung bahan pamor meteorit) kemudian dikirim ke Haji Shaleh di Sumenep, Madura. Garapan keris dilakukan seorang pembuat keris muda Madura, M Jamil.

Dari 300 gram bahan besi meteorit Campo del Cielo (separuh dari keseluruhan 600 gram), jadilah sembilan bilah keris dengan berbagai motif pamor, menurut pilihan Ferry, Dharmawan, maupun Stanley. Nama keris pun dimiripkan dengan asal besi meteorit itu, ”kanjeng kiai kampuh”.

Mengapa dipilih bahan meteorit yang ”kasar”? Menurut Ferry, justru meteor yang tidak halus (fine) biasanya menampakkan kristal dengan pola ”motif meteor” (istilah khas bagi meteor adalah Widmanstaten pattern) yang lebih indah. Semakin bagus pola Widmanstaten-nya besi meteor, semakin unik pula nanti jadinya jika muncul di dalam pamor. Gradasi warnanya tak terduga, lebih menarik daripada sekadar pola gemerlap datar dari bahan nikel.

Nilai nonbendawi

Orang Jawa memang suka dengan hal-hal gaib, terkadang di luar akal, dan mengaitkannya dengan kenyataan hidup sehari- hari. Seperti pamor keris dari bahan meteor, mengapa dulu laris dipakai untuk bahan keris pesanan para raja?

Selain kelangkaan bendanya, juga dipercaya benda yang jatuh dari langit ”memiliki tuah yang gaib”. Wahyu pun—legitimasi spiritual untuk simbol keabsahan sebuah tindakan pada masa lalu—juga sering dikait-kaitkan dengan hal-hal ”dari langit”.

Tak heran pula, jika dari sisa- sisa bongkahan besi meteor Prambanan, kemudian dijadikan semacam pusaka. Ditaruh di sebuah tempat khusus—semacam kandang atau kurungan—dan dikeramatkan sebagai pusaka Kanjeng Kiai Pamor di Keraton Surakarta Hadiningrat.

”Tadinya kami ingin memakai bahan dari Kanjeng Kiai Pamor. Akan tetapi, karena tidak memiliki akses, lebih baik kami mencari besi meteorit dari luar negeri, melalui internet,” tutur Ferry pula, yang mengaku kini kembali melakukan eksperimen berikut: apakah pamor meteorit itu juga bisa diukir (karena begitu kerasnya)....

”Semua proses kali ini akan kami lakukan di Solo, dari menempa bahan sampai penyelesaian kerisnya,” kata Ferry pula.

Apa yang dilakukan Ferry dan kawan-kawan ini ternyata membangkitkan keinginan serupa di kalangan orang muda lainnya yang menyukai keris. Jangan heran, jika pada masa datang ini, orang akan ramai ”berburu” besi meteor. Entah langsung ke lokasi di berbagai pelosok Jawa, atau di dunia maya.


Delapan Watak Pemimpin Jawa

Posted: Saturday, August 16, 2008 by admin in Labels:
0

dari Kompas, Sabtu, 16 Agustus 2008 | 03:00 WIB
Indra Tranggono

Setiap komunitas memiliki seperangkat pengertian dan perilaku, baik yang berasal dari generasi-generasi sebelumnya maupun dari pengalaman komunitas tersebut. Semacam kekuatan atau kemampuan komunitas itu untuk menyelesaikan secara baik dan benar berbagai persoalan serta kesulitan yang dihadapi.

Dalam proses waktu, rangkaian perilaku dan pengertian itu mengkristal dan menjadi sekumpulan nilai atau ajaran moral, yang kemudian secara umum dikenal sebagai local wisdom alias kearifan lokal. Dan secara praktis, kearifan lokal dapat dilihat dalam dua dimensi. Pertama adalah pengetahuan dan kedua adalah praktiknya berupa pola-pola interaksi dan perilaku atau tindakan.

Jawa adalah salah satu etnik yang juga memiliki kearifan lokal. Juga dalam soal kepemimpinan. Bahkan soal ini mendapat perhatian yang cukup serius. Karena, antara lain, ia selalu dikaitkan dengan nilai-nilai ideal yang berorientasi kepada dunia supranatural. Katakanlah semacam dewa, Tuhan, dan lainnya.

Hal itu, antara lain, tercermin dalam pandangan orang Jawa terhadap pemimpin, raja misalnya, yang dianggap sebagai ”wakil/titisan” dewa atau Tuhan di muka bumi. Tugas mulia seorang pemimpin ini terutama menciptakan kehidupan yang harmonis antara manusia, alam, dan Tuhan. Di mana salah satu pilar utama hidup harmonis itu adalah keadilan.

Oleh karenanya, pemimpin yang baik adalah dia yang mampu menerjemahkan nilai-nilai keadilan dalam praksis kehidupan. Orang-orang yang dipimpin harus mendapatkan rasa adil dan kesejahteraan lahir dan batin.

Dalam konteks ramainya kontes pemilihan pemimpin, tingkat lokal dan nasional belakangan ini, mungkin baik menakar bagaimana kearifan lokal Jawa menawarkan standar kepemimpinan idealnya.

Astabratha

Sebagai etnik terbesar, Jawa memiliki konsep tersendiri tentang bagaimana kepemimpinan yang seharusnya. Konsep yang disebut Astabratha itu menilai pemimpin antara lain harus memiliki sifat ambek adil paramarta atau watak adil merata tanpa pilih kasih (Ki Kasidi Hadiprayitno, 2004). Secara rinci konsep ini terurai dalam delapan (asta) watak: bumi, api, air, angin, angkasa, matahari, bulan, dan bintang atau dalam bahasa Jawa disebut bumi, geni, banyu, angin, langit, surya, candra, dan kartika.

Pertama, watak bumi yang harus dimiliki seorang pemimpin mendorong dirinya untuk selalu memberi kepada sesama. Ini berdasarkan analog bahwa bumi merupakan tempat untuk tumbuh berbagai tumbuhan yang berbuah dan berguna bagi umat manusia.

Kedua, geni atau api. Pemimpin harus memiliki sifat api. Api adalah energi, bukan materi. Api sanggup membakar materi apa saja menjadi musnah. Namun, api juga bisa mematangkan apa saja. Api dalam konteks ini bukan dalam pengertian yang destruktif, melainkan konstruktif.

Semangat api yang konstruktif yang harus dimiliki pemimpin, antara lain, adalah kesanggupan atau keberanian untuk membakar atau melenyapkan hal-hal yang menghambat dinamika kehidupan, misalnya sifat angkara murka, rakus, keji, korup, merusak dan lainnya.

Ketiga, air/banyu, adalah watak yang menggambarkan pemimpin harus selalu mengalir dinamis dan memiliki watak rendah hati, andhap asor dan santun. Tidak sombong. Tidak arogan. Sifat mengalir juga bisa diartikan bahwa pemimpin harus mampu mendistribusikan kekuasaannya agar tidak menumpuk/menggumpal yang merangsang untuk korupsi. Selain itu, seperti air yang selalu menunjukkan permukaan yang rata, pemimpin harus adil dalam menjalankan kebijakan terkait hajat hidup orang banyak.

Berdemokrasi

Keempat, watak angin atau udara, watak yang memberikan hak hidup kepada masyarakat. Hak hidup, antara lain, meliputi hak untuk mendapatkan kehidupan yang layak (sandang, pangan, papan, dan kesehatan), mengembangkan diri, mendapatkan sumber kehidupan (pekerjaan), berpendapat dan berserikat (demokrasi), dan mengembangkan kebudayaan.

Surya atau matahari adalah watak kelima di mana pemimpin harus mampu menjadi penerang kehidupan sekaligus menjadi pemberi energi kehidupan masyarakat.

Keenam, watak bulan/candra. Sebagaimana bulan yang memiliki kelembutan menenteramkan, pemimpin yang bijak selalu memberikan rasa tenteram dan menjadi sinar dalam kegelapan. Ia harus mampu memimpin dengan berbagai kearifan sekaligus visioner (memiliki pandangan jauh ke depan); bukan memimpin dengan gaya seorang tiran (otoriter) dan berpikiran dangkal.

Lalu watak ketujuh dalam kearifan Jawa adalah bintang/kartika. Sebagaimana bintang menjadi panduan para musafir dan nelayan, pemimpin harus mampu menjadi orientasi (panutan) sekaligus mampu menyelami perasaan masyarakat.

Dan akhirnya, Jawa menuntut seorang pemimpin mesti memiliki watak langit atau angkasa. Dengan watak ini, pemimpin pun harus memiliki keluasan hati, perasaan, dan pikiran dalam menghadapi berbagai persoalan bangsa dan negara. Tidak sempit pandangan, emosional, temperamental, gegabah, melainkan harus jembar hati-pikiran, sabar dan bening dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Bukankah inti atau substansi pemimpin adalah pelayan? Pemimpin yang berwatak juragan adalah penguasa yang serba minta dilayani dan selalu menguasai pihak yang dipimpin.

Indra Tranggono Pemerhati Kebudayaan dan Cerpenis,

Kisah Magis Keris dan Cara Membuatnya (1)

Posted: Tuesday, August 12, 2008 by admin in Labels:
1

Dari kompas.com 12 Agustus 2008

JAKARTA - Mulai Selasa (12 Agustus hingga 16 Agustus) di Bentara Bedaya Jl Palmerah Selatan Jakarta Pusat digelar Pameran Keris Zaman Kamardikan. Ratusan keris dari berbagai pelosok Asia Tenggara dipamerkan.

Selain menggelar pameran, di sisi lain gedung yang sama juga digelar bursa keris dan berbabagai benda seni senjata tajam bikinan lama. Malihat antusiasme pengunjung, bisa ditarik kesimpulan bahwa keris berikut benda-benda "sakti" itu masih memiliki penggemar.

Dalam bursa keris, ada beberapa keris yang ditawarkan hingga mencapai Rp 40 juta. Tetapi ada juga yang berharga satu jutaan. Dihadirkannya ratusan keris di rumah budaya milik Kompas Gramedia itu, mau tak mau mengajak kita semua untuk sebentar berwisata ke masa lalu.

Keris, dengan segala cerita, legenda magisnya masih tetap eksis hingga kini. Meski demikian, keris dalam perkembangannya dikoleksi bukan lantaran kesaktian atau harapan dari kolektornya untuk mendapatkan "sesuatu", tetapi keindahan dari fisik keris menjadi semakin dominan.

Sesungguhnya, dalam proses pembuatannya keris tidak beda dengan benda-benda seni kriya lain, seperti ukir (batu, kayu, tulang, besi). Yang sangat membedakan justru pada kisah-kisah magis yang dibangun bersama kehadiran keris atau tombak dan pedang.

Kisah-kisah magis itulah yang menjadikan keris sangat sulit untuk diproduksi massal. Tetapi dampak lain juga memunculkan sikap keengganan. Tidak semua orang mau mengoleksi keris sebagai benda seni, karena takut. Namun dari kisah-kisah magis itu pulalah keris menjadi seni tingkat tinggi yang hanya dinikmati oleh mereka yang benar-benar mengerti, memahami dan menghargai serta mencintai benda yang dihasilkan oleh seni tempa itu.

Zaman orde baru, hampir setiap menteri mengoleksi keris. Dan tak urung melahirkan percandaan, "Biar dianggap memahami budaya, karena boss-nya kebetulan orang Jawa dengan berbagai isu tentang kejawaannya."

Kisah-kisah heroik atau magis tentang keris selalu muncul dari zaman ke zaman. Kisah keris Empu Gandring, sangat erat dan dekat dengan pola pemilihan kepemimpinan di masa Singasari. Siapa yang menguasai keris itu, akan menjadi raja Singasari. Namun, siapa yang menguasai keris itu, akan terbunuh oleh keris itu juga.

Keris pesanan Ken Arok, yang kemudian menjadi raja Singasari yang pertama, di besalen (studio keris) Empu Gandring sudah menjadi sebuah mitos. Bahkan di kalangan pakar keris pun, ujud keris itu seperti apa masih terjadi silang pendapat.

Di lingkungan keluarga Empu Supa yang hingga kini masih menekuni profesi sebagai pembuat keris, Keris Empu Gandring sebenarnya belum selesai dikerjakan. Namun karena laku prihatin Empu Gandring atau karena kutukan Empu Gandring pulalah keris itu menjadi sangat sakti dan populer. Tetapi keris itu sesungguhnya bernama apa, tidak ada yang tahu. Kebanyakan hanya menyebut keris Empu Gandring.

Kisah Keris Tuding Sumelanggandring juga tidak kalah serunya. Di era Brawijaya pertama, kerajaan Majapahit kehilangan keris bernama Tuding Sumelanggandring. Lalu diutuslah Jaka Supa yang saat itu hendak mendaftar sebagai abdi dalem di kerajaan itu. Dikisahkan dalam perjalanan pencarian keris itu, Jaka Supa akhirnya mendapatkan wisik dari Tuhan Yang Maha Esa, bahwa keris itu berada di tangan Adipati Siung Laut di Blambangan. Bergegaslah Jaka Supa ke Blambangan.

Berkat keahlian Jaka Supa dalam memproduksi keris-keris model baru, Adipati Siung Laut terpikat. Bahkan Adipati itu memerintahkan Jaka Supa untuk membuat duplikat (mutrani) keris Tuding Sumelanggandring. Misi Jaka Supa akhirnya berhasil. Jaka Supa meminta agar tidak ada orang yang mendatangi besalennya saat dia mengerjakan pesanan Adipati Siung Laut, meski saat itu Jaka Supa sudah menjadi menantu Adipati itu. Jaka Supa sangat setia kepada rajanya di Majapahir, ketimbang terhadap mertuanya di Blambangan. Ternyata Jaka Supa tidak hanya membuat satu duplikat, melainkan dua. Sedangkan keris yang asli disimpannya di paha yang tertutup kain.

Lalu dua keris palsu itu dipersembahkan kepada mertuanya. Adipati Siung Laut gembira, karena kini dia punya dua keris kebanggaan Majapahit yang sangat sakti. Selesai mengerjakan keris itu, Jaka Supa secara diam-diam meninggalkan Blambangan.

Kisah selanjutnya, Jaka Supa diangkat menjadi salah satu pangeran dengan gelar Pangeran Sendangsedayu. Cita-cita Siung Laut untuk menggeser kekuasaan Majapahit ke Blambangan akhirnya gagal total.

Keris buatan Pangeran Sendangsedayu memiliki ciri pada pamor yang sangat halus. Dan keturunan Pangeran Sendangsedayu ini pulalah yang hingga kini masih melanjutkan pembuatan keris, disamping empu-empu keris dari keturunan empu lain atau pembuat keris yang bukan keturunan empu, yang masih mempertahankan tradisi itu.

Dalam dunia pewayangan, cerita-cerita kehebatan tentang keris menjadi sangat dominan. Hampir setiap tokoh wayang memiliki senjata berupa keris. Wayang purwa dengan kisah Mahabarata dan Ramayana yang berkembang sejak zaman Majaopahit akhir dan masuknya peradaban Islam, menempatkan keris sebagai benda yang begitu penting.

Empu-empu keris dalam kisah pewayangan hanya selalu disebutkan namanya, tetapi tidak pernah diperlihatkan sosoknya. Empu Ramadi, merupakan salah satu yang paling terkenal. Bahkan Ki Dalang sering menyebutkan bahwa Empu Ramadi merupakan pembuat keris di Kahyangan, alamnya para dewa.

Keris-keris yang sangat populer di dunia pewayangan antara lain, Kaladete, Kalamisani, Kalanadah, Pulanggeni, Jalak, Carubuk. Sedangkan yang berupa panah, Guwawijaya, Pasupati, Cakra, Nagabanda, Cundamanik. Yang berupa gada, antara lain gada Rujakpolo, Lukitasari, Inten, Wesi Kuning.

Di zaman Mataram Islam, Sultan Agung Hanyakrakusuma menciptakan tokoh raksasa bernama Buta Cakil. Tokoh ini merupakan petarung yang sangat ahli memainkan keris. Keris Kolomunyeng namanya. Namun, karena Buto Cakil memang diciptakan sebagai tokoh jahat, dalam setiap pehampilannya, Buto Cakil selalu mati oleh kerisnya sendiri.

Di zaman Islam keris dan senjata tombak yang sangat terkenal adalah Keris Setankober, milik Adipati Jipang Aria Penangsang. Tombak Kyai Plered milik Panembahan Senapati.

Bahkan dalam perjalanan sejarahnya, Pangeran Diponegoro selalu mempersenjatai diri dengan sebilah keris. Bisa dilihat dalam lukisan-lukisan Diponegoro, keris selalu menjadi bagian yang tidak pernah ketinggalan. Demikian pula dengan bapak TNI, Jenderal Sudirman yang selalu mengenakan keris dalam setiap penampilannya.

Benarkah keris merupakan benda sakti? Jawabnya ada pada anda semua. Demikian juga jika ditanyakan, benarkah keris itu indah, jawabnya juga ada dalam diri anda semua.

Tetapi untuk melestarikan keris, para pekerja seni banyak yang sudah mencurahkan perhatian. Entah sebagai kolektor, pedagang, pengagum atau bahkan pembuat. Mereka memiliki andil yang sangat besar dalam mengembangkan budaya warisan leluhur kita itu.

Bagaimana membuat keris, adalah pertanyaan yang paling menarik. Karena jika ingin menjadi kolektor, sediakan saja uang yang cukup, maka syarat mendasar yang dibutuhkan sudah anda miliki. (bersambung)


IGN sawabi
Sent from my BlackBerry © Wireless device from XL GPRS/EDGE/3G Network

Menelusuri Kebesaran Majapahit

Posted: by admin in Labels:
4

Kompas, Selasa, 12 Agustus 2008 | 03:00 WIB
Ingki Rinaldi

Situs Trowulan di Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, yang menyimpan sejarah Kerajaan Majapahit, sudah dikenal dalam komunitas dunia ilmiah sejak awal abad ke-20. Berbagai penelitian dilakukan untuk mengungkapkan seluruh aspek kebesaran Kerajaan Majapahit.

Meski demikian, belum ada hasil penelitian yang bisa menunjukkan letak persisnya lokasi kedaton (puri) Wilwatikta Kerajaan Majapahit. Hingga kini, Trowulan yang secara administratif adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Mojokerto dikenal luas sebagai kemungkinan ibu kota Kerajaan Majapahit.

Itulah yang kemudian melandasi Penelitian Arkeologi Terpadu Indonesia (PATI) I, yang tahapannya sudah dimulai sejak Juni 2008 dan akan diakhiri penulisan dan publikasi laporan pada November 2008.

Inilah penelitian pertama di Indonesia yang dilakukan bersama oleh 20 dosen dan 80 mahasiswa dari Universitas Indonesia (UI), Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Hasanuddin (Unhas), dan Universitas Udayana (Unud) Bali.

Fokus penelitian tersebut terentang dalam wilayah seluas kira-kira 1 kilometer x 1 kilometer yang meliputi Blok Kedaton, Sentonorejo, dan Nglinguk. Tim peneliti menentukan wilayah yang diduga sebagai ibu kota Kerajaan Majapahit dan jantung situs Trowulan itu berdasarkan jalur-jalur kanal kuno yang saling berpotongan.

Dalam foto udara yang dirilis Bakosurtanal pada tahun 1970-an, terlihat jelas citra kanal-kanal kuno itu membagi situs Majapahit dalam beberapa wilayah berbentuk persegi panjang.

Pada wilayah itulah terdapat blok persegi yang meliputi Blok Kedaton. Juga peninggalan Candi Kedaton, Lantai Segi Enam, dan deretan batu besar (16 umpak) yang sudah digali. Selain itu, terdapat pula Sumur Upas yang dipergunakan masyarakat. Data itulah yang dipakai sebagai bagian penguat hipotesis bahwa di lokasi seluas 1 kilometer persegi itulah terdapat Kedaton Majapahit.

Batas-batas tembok

Hingga berakhirnya ekskavasi, ada 36 kotak galian yang sudah dibuka dan satu kotak galian percobaan. Menurut Koordinator Ekskavasi dan Survei PATI I Cecep Eka Permana, dari sejumlah hasil temuan hingga penggalian hari terakhir, hipotesis bahwa lokasi Kedaton Majapahit ada di sekitar lokasi ekskavasi semakin kuat. ”Sekitar 80 persen kemungkinannya,” ujar Cecep.

Temuan-temuan yang dihasilkan selama ekskavasi itu berupa batas-batas tembok yang berada pada kedalaman antara satu meter hingga tiga meter di bawah permukaan tanah. Temuan bangunan yang diduga sebagai batas-batas tembok kedaton itu cukup menggembirakan karena paling tidak sesuai dengan uraian dalam Nagarakrtagama yang di antaranya menyebutkan kedaton dikelilingi dan disekat-sekat oleh tembok pembatas.

Dalam penggalian tersebut, temuan yang menjadi catatan kuat adalah bukti adanya batu bata besar dalam dua ukuran yang berbeda. Pertama, batu bata ukuran 34 cm x 77 cm x 7 cm dan 31 cm x 18 cm x 8 cm.

Struktur batu bata secara masif itu, menurut Cecep, tidak ditemukan di sejumlah blok lain pada situs Trowulan. ”Universitas Indonesia setiap tahun juga melakukan penggalian, tetapi kami tidak pernah menemukan struktur batu bata yang konsentrasinya seperti kali ini,” ujar Cecep yang juga dosen pada Departemen Arkeologi UI itu.

Tim peneliti gabungan juga telah menemukan sumur, kanal air, pecahan tembikar, pecahan keramik, pecahan logam, dan tulang belulang hewan yang melengkapi temuan. Namun, hingga saat ini belum dapat dilakukan analisis lebih jauh soal perkiraan umur barang-barang temuan itu, termasuk menentukan jenis logam apa yang sudah ditemukan.

Penanggung Jawab PATI I Irma M Johan, yang juga Ketua Departemen Arkeologi UI, menyebutkan, hingga saat ini yang dirasakan kerap jadi kendala adalah upaya untuk menentukan umur peninggalan barang-barang hasil penggalian. Pasalnya, analisis untuk menentukan umur barang-barang peninggalan dengan menggunakan teknik analisis bekas-bekas karbon yang ditinggalkan masih harus dilakukan di luar negeri.

”Kalau hanya analisis pollen (serbuk sari tanaman) bisa dilakukan di Indonesia, tetapi kalau karbon masih harus ke luar negeri,” ujar Irma. Persoalan itu makin besar karena biaya yang dibutuhkan untuk melakukan analisis di luar negeri secara otomatis akan membengkak.

Bantuan Hashim

Penelitian itu terlaksana dengan bantuan Yayasan Keluarga Hashim Djojohadikusumo (YKHD). Direncanakan, pada tahun depan PATI II akan kembali dilakukan sekalipun belum dapat dipastikan apakah lokasinya akan kembali berada di situs Trowulan ataukah di situs-situs peninggalan sejarah lainnya.

Irma M Johan menyebutkan, pada awalnya ego dan perasaan unggul dari sejumlah individu yang berasal dari empat universitas itu memang muncul. Tarik-menarik terutama terjadi dalam penentuan metode apa yang hendak digunakan dalam proses penelitian itu.

Terutama metode yang akan digunakan dalam proses ekskavasi atau penggalian arkeologis yang menjadi jantung kegiatan penelitian itu. Akhirnya diputuskan menggali dengan sistem grid yang membagi wilayah penggalian menjadi kotak-kotak berukuran 1,5 meter x 1,5 meter dengan kedalaman penggalian yang bervariasi. “Kami juga akhirnya sepakat untuk memakai metode penggalian lot ketimbang spit, atau layer,” kata Cecep.

Direktur PATI I Niken Wirasanti menjelaskan, selain ditujukan untuk mengungkapkan lokasi persis kedaton situs Trowulan, penelitian bersama itu juga dimaksudkan untuk menyamakan metode dan standar kompetensi arkeolog. ”Banyak manfaatnya bagi kami. Ini sangat bagus untuk standardisasi,” sebut I Nyoman Wardi, Ketua Jurusan Arkeologi Fakultas Sastra Unud.

Ketua Jurusan Arkeologi Unhas, Makassar, Anwar Thosibo mengutarakan pengungkapan lokasi kedaton situs Trowulan bermanfaat untuk menemukan sampai seberapa jauh kaitan antara Majapahit dan kerajaan lainnya di Indonesia.

Niken menambahkan, hasil penelitian nantinya akan didokumentasikan di Pusat Informasi Majapahit, Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Niken menyebutkan, relatif tumpang tindihnya informasi selama ini perihal lokasi kedaton di situs Trowulan akan coba diurai dalam penelitian tersebut.

Ancaman serius

Namun, upaya penelitian untuk mengungkapkan kekayaan dan kejayaan budaya Kerajaan Majapahit itu harus berhadapan dengan ancaman dari tuntutan ekonomis masyarakat sekitar. Ancaman itu berupa industri pembuatan batu bata yang banyak dilakukan masyarakat di sekitar lokasi situs Trowulan.

Tidak kurang 6,2 hektar lahan di situs Trowulan yang menjadi pusat peninggalan arkeologi Kerajaan Majapahit harus rusak setiap tahun akibat penggalian tanah sebagai bahan baku pembuatan batu bata. Luas lahan yang mengalami kerusakan dimungkinkan semakin bertambah mengingat maraknya pembuatan batu bata di kawasan itu.

Jika tidak ada upaya serius dari berbagai pihak, niscaya kemegahan peninggalan sejarah Kerajaan Majapahit akan benar-benar hilang tanpa pernah ditemukan.

”Masyarakat di sekitar sini pun sepertinya tidak terlalu peduli dengan peninggalan sejarah yang sangat berharga ini. Kami pernah melakukan penggalian di lokasi yang bersebelahan dengan orang yang melakukan penggalian tanah untuk dibuat batu bata, ya jelas kami kalah cepat,” ucap Cecep

"Nyantrik"Keris pada Empu Subandi

Posted: by admin in Labels:
1

Kompas,

Selasa, 12 Agustus 2008 | 03:00 WIB

Jimmy S Harianto

Keris pada zaman ”kamardikan” sekarang ini memang tidak hanya jadi monopoli keraton. Keris sekarang sudah masuk kampus. Anda pun bisa ”kuliah” menjadi empu keris di Solo.

Setidaknya ada empat ”besalen” (tempat empu membikin keris, lengkap dengan perapian arang kayu jati dan paron tempat menempa besi) di Solo. Salah satunya di Institut Seni Indonesia (ISI) di Kenthingan, dekat Bengawan Solo, dan yang lainnya adalah di besalen-besalen milik pribadi.

Salah satu besalen pribadi yang ”laris” dipakai berguru para mahasiswa yang ingin mengambil mata kuliah profesi, kuliah pilihan membikin keris, adalah besalen milik Empu Subandi. Persisnya di Desa Banaran, Ngringo, Jaten, Karanganyar di sisi timur Bengawan Solo.

”Selain untuk mengisi unit kegiatan mahasiswa (UKM), kebanyakan mereka menumpahkan minat mereka sambil menunggu menyelesaikan kuliah,” tutur Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Subandi Supaningrat—gelar pemberian dari Keraton Surakarta—ini pula.

Empu Subandi (51) yang kini tengah berada di Jakarta ikut Pameran Keris Kamardikan yang diselenggarakan Bentara Budaya Jakarta, perkumpulan pencinta keris Panji Nusantara, dan sejumlah kolektor individual pada 12-16 Agustus 2008.

Tak rahasia lagi

Pada masa silam, pembuatan keris itu dulu penuh kerahasiaan. Jangankan cara membikinnya yang cukup rumit, ritual-ritualnya pun serba tersembunyi. Juga, siapa yang memesannya.

Bisa terjadi, si pemesan keris—banyak di antaranya para raja atau orang penting keraton pada masa lalu—memesan kepada si empu pembuat keris agar dalam membikin pun empu menjalankan ritual tertentu serta dengan niat dan tujuan tertentu pula.

Keris Empu Gandring adalah salah satu legenda tutur yang populer. Ken Arok yang licik bisa memfitnah Kebo Ijo sebagai pembunuh Akuwu Tunggul Ametung—hanya karena sebilah keris yang dititipkan kepadanya secara rahasia.

Budaya ”kerahasiaan” dalam pembuatan keris pada masa lalu itu disebut sebagai budaya sinengker. Keris bagi orang Jawa pada masa lalu merupakan benda yang sinengker. Dipesan untuk dibikin dengan niat pribadi sehingga perlu dirahasiakan.

Meski kerahasiaan itu menghambat pelestariannya, ternyata budaya sinengker itu dulu juga menimbulkan kekhasan mutu dan penampilan keris. Keris yang dari ”tangguh” (perkiraan zaman pembuatan atau gaya zaman tertentu) Majapahit abad ke-14-16, misalnya, secara visual tampak berbeda dari keris tangguh tua sebelumnya, masa Kerajaan Pajajaran (abad ke-14-15).

Tetapi, pada zaman kamardikan (setelah kemerdekaan), benteng-benteng sinengker itu mulai runtuh. Ilmu membuat keris mulai diurai keluar tembok keraton. Dalam 20 tahun terakhir, keris bahkan sudah masuk ke tembok kampus. Keris kini sudah menjadi mata kuliah pilihan bagi mahasiswa kriya ISI Solo, di samping tatah logam, kriya kayu, dan wayang.

”Di besalen kampus, mahasiswa bahkan bisa menggunakan bahan-bahan dari sekolah, termasuk arang kayu jati—satu-satunya jenis arang yang dipergunakan untuk memijar batang-batang besi karena memiliki suhu tinggi di atas 1.000 derajat Celsius,” ujar Sunarwan alias Grompol, alumnus angkatan tahun 2000 ISI Solo.

Guna menimba ilmu keris yang lebih dalam, para mahasiswa pun kemudian nyantrik (berguru) di besalen pribadi di luar kampus, seperti milik Empu Subandi di Ngringo, atau milik empu muda lainnya, seperti Yanto, Yantono, dan Daliman.

”Minat untuk ambil kuliah pilihan keris meningkat, terutama setelah adanya pengakuan dari UNESCO,” tutur Empu Subandi. Pengakuan UNESCO yang dimaksud Subandi adalah pengakuan dari lembaga PBB ini dalam proklamasinya di Paris, Perancis, 25 November 2005, bahwa keris merupakan warisan kemanusiaan dunia dari Indonesia (oral and intangible heritage of Indonesia). Tahun 2003, pengakuan serupa juga dilayangkan UNESCO untuk wayang.

Setidaknya, lebih dari 10 mahasiswa sudah nyantrik di besalen Empu Subandi. Mereka tak hanya datang dari ISI Solo, tetapi juga dari ISI Yogyakarta, Universitas Muhammadiyah Solo (UMS), dan sebuah universitas swasta di Surabaya.

Jumat (8/8) lalu, misalnya, ada tiga cantrik, Sigit (semester tujuh), Sunarwan (sudah lulus ISI), dan Argo (UMS Solo) yang tengah mengayunkan godam ke pelat besi di paron, dibantu Sukimin, asisten Subandi.

”Jika di bangku akademi, kami mempelajari teori, di besalen seperti ini, kami praktik,” tutur Sunarwan, salah satu alumnus ISI Solo yang juga ”lulus” kuliah keris.

Sekitar enam bulan

Berapa lama seseorang bisa belajar bikin keris? Bervariasi. Akan tetapi, sekitar enam bulan kuliah keris biasanya bisa dikatakan lengkap meskipun hasil kerja, tentunya bergantung pada ketekunan dan bakat masing-masing.

”Setidaknya enam bulan mahasiswa sudah mendapatkan 20 sesi membuat keris serta bimbingan dosen pengampu atau dosen utama di kampus. Selebihnya, untuk memperdalam, mahasiswa diperbolehkan nyantrik di ’perusahaan’ di luar kampus,” kata Sunarwan alias Grompol ini pula.

Yang dimaksud ”perusahaan” dalam pengertian mahasiswa kriya ISI itu adalah besalen swasta di luar kampus, seperti yang dimiliki Empu Subandi.

Ada malah, mahasiswa putri yang ambil mata kuliah keris,” kata Subandi, meski kini tidak terpantau.

Andai saja mereka meneruskan kriya mereka sebagai empu, sebenarnya mereka meneruskan ”legenda” masa lalu, seperti empu keris wanita yang bernama Ni Mbok Sombro pada masa kerajaan Pajajaran.

”Proses cipta keris kamardikan seperti oleh Djeno Harumbrodjo (keturunan ke-15 Empu Supa dari Majapahit, meninggal di Yogyakarta tahun 2006) sekarang juga mulai diikuti oleh para seniman keris di Solo dan beberapa tempat lain. Upacara tradisi, seperti upacara Sidhikara Pusaka di Jakarta dan Tumpak Landep/Pasopati di Bali, juga semakin semarak. Hal ini harus dilestarikan karena aspek ini adalah salah satu nilai penting dan tidak dimiliki oleh bangsa Barat,” kata Toni Junus, pembuat keris, lulusan ASRI Yogyakarta dan ketua penyelenggara pameran di Bentara Budaya Jakarta kali ini.

Hari gini, di zaman serba digital dan elektronik, ternyata masih juga bertahan budaya lama warisan nenek moyang beberapa ratus tahun silam....

Rahasia Keris - Part 1

Posted: Sunday, August 10, 2008 by admin in Labels:
1

Dikutip dan di-edit dari buku : “Keris – Daya Magic<>
Ki Hudoyo Doyodipuro, Occ, Dahara Prize (2000, halaman 309)


Ada tiga hal penting untuk mengetahui rahasia “mistis” sebuah keris, yakni Tangguh, Tayuh, dan Pasikutan.


1. Tangguh : digunakan untuk mengetahui waktu dibuatnya Keris itu.
2. Tayuh : digunakan untuk mendata daya yang dipancarkan Keris itu.

3. Pasikutan : meneliti finishing keserasian penggarapan Keris itu.


Dengan mengenali tiga unsur triguna pada sebuah bilah keris di atas, maka kita sudah “menguasai”, setidak-tidaknya Rahasia magic-nya bilahan Tosan Aji, khususnya Keris.


TANGGUH


Adalah suatu cara untuk mengetahui tangguh atau Kurun waktu dibuat­nya sebuah keris. Pertama2 kita harus mengetahui bahan yang digunakan untuk membuat keris tsb.


Bahan pembuat keris yang utama adalah "besi". Dan ada beberapa jenis besi yang khusus digunakan pada zaman-zaman tertentu. Setelah kita mengenali jenis besi, kemudian meneliti garap, kandungan baja, dan ragam pamornya. Barulah kita mengetahui siapa mpunya, rajanya, tahunnya, dan Jamannya


Bunyi Besi Warna dan Daya


Mendata Bunyi (Thinthingan)


Prosesnya seperti garputala atau seperti melaras nada gamelan.


Caranya dengan jari telunjuk dan ibu jari kiri menjepit sepertiga panjang bilahan keris. Ukiran atau pegangan keris dilepas. Dekatkan ketelinga kiri. Di-thinthing dengan memukulkan ujung jari telunjuk kanan. Maka akan terdengar bunyi dengung, thing, gong, ngong, atau gur. Kalau belum terdengar suara getaran, maka geser jemari yang memegang bilahan keris tadi. Keatas atau ke bawah, hingga dapat mengelurkan bunyi.


Cara kedua; dengan mengikatkan selembar benang pada ujung keris. Kemudian benang itu kita tempelkan pada telinga. Ganja kita sentuhkan pasa pinggir meja. maka akan terdengan suatu bunyi.


Bila bunyi itu sebagai berikut:


Mendengung seperti lebah:
Uratnya seperti ombah lautan.
Besi Karangkijang.
Dayanya dingin dan sabat.


Gurrr .... :
Warnanya hijau metalik.
Besi pulosani dicampur Karinduaji.
Dayanya kewibawaan, dapat kaya, dan keriernya baik.


Ngongngng :
Warnanya ungu kebiru-biruan.

Besi mangangkang (betina)

Dayanya kalau dibawa pergi mudah dapat rejeki.


Gungng... bergetar panjang.
Warnanya biru.

Besi Walulin.

Dayanya; yang punya selalu sehat kuat, dalam bidang
pertanian subur tanamannya, dihormati orang banyak, dan dapat berbuat tegas dalam menyelesaikan perkara.


Kungngng bersama panjang.
Warnanya hitam kehijau-hijauan.

Besi Katub.
Dayanya; cocok untuk pedagang, apa yang dikehendaki dapat tercapai, dan juga untuk keselamatan.


Nong gong berbareng dengan ting ngang - ngangng.
Warnanya putih.
Besi Kamboja.

Dayanya; berwibawa, disegani orang banyak, kariernya baik. Tetapi tidak boleh berbuat jahat, kalau melanggar mendapat celaka.


Mendengung bergema panjang.
Warnanya putih kemerahan.
Besi Ambal.
Dayanya; dapat menarik keris lain.


Dungng.
Warnanya biru bercahaya bening.

Besi Winduaji.

Dayanya; untuk keselamatan.


Jrungng panjang.
Warnanya biru kekuningan.

Besi Tumpang.

Dayanya; kewibawaan dan daya pesona.


Nong -ngong - ngong panjang.
Warnanya hitam pekat. Besi Werani jarang yang kuat)

Dayanya; dapat mencapai pangkat tinggi, kaya raya, dan sukses dalam kepemerintahan.


Nongng
Warnanya kuning kehijau-hijauan.

Besi Walangi.

Dayanya; lancar untuk mencari sandang pangan, juga
untuk penghasihan, dan jangan untuk usaha simpan pinjam.


Berdengung.
Warnanya hitam nglumut (kehijauan).

Besi Terate.

Dayanya; dicintai oleh wanita, dan keselamatan.


Preng - bergetar panjang. Warnanya putih kebiru-biruan. Besi Melelaruyun. Dayanya;


(bersambung)

Keris Gelombang Cinta

Posted: Friday, August 08, 2008 by admin in Labels:
1

Dari Kompas
Jumat, 8 Agustus 2008 | 03:00 WIB

Oleh Jimmy S Harianto

Keris berbentuk daun anturium? Ya, Gelombang Cinta. Mumpung sedang ngetren orang menanam tumbuhan yang diburu keunikan bentuk daunnya ini, Ki Sukamdi pun membuat keris Gelombang Cinta.

Sebenarnya Ki Sukamdi—seorang pembuat keris yang tinggal di Desa Jetis, Banyuagung, Nusukan Solo—mula pertama punya inisiatif membuat keris ber”dapur” (dapur–istilah khas kalangan perkerisan untuk menyebut bentuk atau model keris) ”Gelombang Cinta” karena kejengkelan.

Sekitar setahun silam, Sukamdi mengaku ikut-ikutan tergerak membeli dua pot tanaman anturium dari jenis gelombang cinta yang sudah bertongkol, seharga Rp 12 juta. Seperti halnya orang lain di berbagai kota di Jawa belakangan ini, Sukamdi terbuai mimpi: ”tanaman ini laku jutaan, apalagi jika tongkolnya sudah menghasilkan ribuan anak-tanaman, bisa menghasilkan uang….”

”Enggak tahunya, seminggu setelah saya membeli, ’gelombang cinta’ sudah tidak musim lagi. Sudah terlalu banyak orang yang memilikinya. Dikasihkan orang pun tak banyak yang mau ambil,” ujar Ki Sukamdi. Perasaan ”kejeglong” (terperosok, Jawa) ini ternyata justru membuahkan kreativitas kepada Ki Sukamdi yang di kalangan para penggemar keris di Jawa sudah dikenal luas namanya karena garapan bilah kerisnya indah.

Sukamdi pun kemudian membentuk keris—di bengkel keris sederhana di halaman depan rumahnya (tak selengkap ”besalen” atau tempat empu membuat keris dengan tungku pijar dan arang kayu jati). Sebuah keris, yang meniru daun anturium gelombang cinta, lengkap dengan bentuk tulang-tulang daun serta lekuk-lekuk pinggir daunnya. Hanya saja, detail di bawah pangkal daun dibuat benar-benar detail pangkal keris, lengkap dengan gelung yang disebut sebagai ”sekar kacang” maupun ”ganja” (dasar bilah, yang biasanya dibuat terpisah dari bilah)-nya.

Dalam waktu singkat, keris Gelombang Cinta Ki Sukamdi pun ”disambar” orang. Setidaknya sudah tiga keris Gelombang Cinta—yang sungguh-sungguh berkualitas garap keris—terbang ke tangan kolektor. Harganya? Berkali lipat jika dibandingkan dengan jumlah uang yang ia keluarkan untuk membeli dua pot gelombang cinta—yang akhirnya malah hanya ia onggokkan di halaman depannya, tanpa takut dicuri orang.

”Tanaman (gelombang cinta) sudah menghasilkan ribuan tumbuhan, tapi tidak ada yang laku, hanya saya bagi-bagikan cuma-cuma kepada tetangga,” ujar Ki Sukamdi.

Geram korupsi

Tak hanya demam anturium yang menggerakkan Ki Sukamdi mencipta ”dapur” baru keris-keris buatannya. Belakangan ia kini juga tengah menggarap sebuah mata tombak yang nantinya ia akan sebut sebagai ”Kiai Kopek”. (Jangan disalahmengertikan dengan keris pusaka Keraton Yogyakarta, Kanjeng Kiai Kopek). Akan tetapi, menurut Ki Sukamdi, Kiai Kopek bikinannya adalah kepanjangan dari ”Komisi Pemberantasan Korupsi”.

Bentuknya? ”Wah, bisa-bisa penguasa nanti marah. Soalnya, selain lambang partai di ujung tombak, di bawah lambang ada tikusnya…,” kata Ki Sukamdi. Benar, menurut gambar sketsanya, lambang partai itu ”dijunjung” dua tikus kembar dalam posisi bertolak-belakang, tetapi anehnya buntut tikus itu jadi satu (cuma satu).

Ki Sukamdi geram, ternyata saat ini para koruptor—yang dilambangkan dengan tikus itu—saling berkait satu-sama lain. Andai yang satu ditarik, tikus yang kembarannya akan ikut tertarik pula lantaran ekornya hanya satu. Jadi, tikus itu harus selalu berjalan bareng. Salah-salah bisa adu tarik-menarik buntut. Kasihan tikus koruptor itu….

Jika dulu masyarakat Jawa banyak memaknai hidup mereka dalam berbagai simbol—termasuk dalam mewujudkan karya-karya seni tradisi, di antaranya keris, Jawa masa kini—setidaknya Ki Sukamdi—juga perlu mengekspresikan keseharian, kenyataan yang dialami dan dilihat, dalam bentuk simbol-simbol baru.

”Saya pun yakin, dulu leluhur kita membikin keris berdapur Nagasasra (keris berlekuk, dengan bentuk naga bermahkota di bilahnya) juga mempunyai maksud sesuai zamannya,” kata Ki Sukamdi. Kenapa keris ”naga” atau ”singa barong”, tentu bukan hanya simbol tanpa makna.

Bukan hanya sekali dua kali ini Ki Sukamdi menciptakan ”dapur baru” kerisnya. Sebelum ini, di kalangan perkerisan di Jawa, Ki Sukamdi juga pernah dikenal menciptakan dapur (model) keris Peksi Dewata. Ia memodifikasi bentuk keris lama Majapahitan, Megantara (keris kombinasi lekuk dan lurus—luk (lekuk) tujuh, tetapi ujungnya lurus) dengan imbuhan dua burung (peksi) berjambul, berparuh indah di ujung ”gandhik” (bagian depan pangkal bilah), serta di belakang ”wadidang” (bagian belakang pangkal bilah).

Atau, baru-baru ini ia juga membuat ”dapur kamardikan”, berupa keris bermata dua, tetapi hanya satu pangkal bilah. Yang satu mata keris lurus (melambangkan angka satu), yang satu bilahnya lagi berlekuk tujuh. ”Tujuh belas Agustus, Kamardikan,” ujar Ki Sukamdi. (Keris ini akan dipamerkan dalam kesempatan Pameran Keris Kamardikan di Bentara Budaya 12-16 Agustus mendatang).

Meski bentuknya aneh dan baru, keris bermata dua bernama Kamardikan ciptaan Ki Sukamdi itu tetap memakai sarung keris normal, jenis warangka ”sandang walikat” (warangka informal, bukan jenis resmi ladrang dan bukan pula bentuk sehari-hari gayaman).

Pamor ”poleng”

Keris memang merupakan salah satu bentuk seni kriya, tradisi di Nusantara. Akan tetapi, dalam perjalanan tradisi itu bukan tanpa disertai kemunculan hal-hal yang baru. Pada tahun 1980-an, misalnya. Pembuat keris lainnya dari Solo, Empu Pauzan Pusposukadgo, juga pernah melakukan hal baru yang memancing perhatian kalangan perkerisan pada masa itu.

Empu yang mengaku ”otodidak” (ia berhenti dari profesinya pengemudi bus malam, bus antar kota dan kemudian menekuni profesi sebagai pembuat keris, meski kini ia sudah pensiun bikin keris) yang tinggal di Yosoroto, Solo, ini pernah membuat ”pamor baru”, yang dinamai pamor ”poleng wengkon”. Pamor adalah motif yang muncul di bilah, akibat lipatan besi yang berbeda, biasanya logam putih dan hitam.

Tentunya tak mudah bagi empu yang mendapat gelar resmi dari keraton Surakarta ini untuk mewujudkan guratan-guratan pamor dalam tempaan bilah, yang terdiri atas garis vertikal dan horizontal.

”Pamor itu didesain seorang pelaut Jerman yang mencintai keris Indonesia, Dietrich Drescher, dan saya diminta membikinnya,” kata Pauzan, yang pernah mendapat jabatan dari Raja Paku Buwono XII sebagai ”mantri pande” (menteri pandai keris) Keraton Surakarta ini pula.

Oleh sesepuh perkerisan Keraton Surakarta, KRT Hardjonagoro (kini Panembahan) waktu itu, karya empu Pauzan berupa keris berdapur ”betok-gumbeng” (keris lurus, berbilah lebar) dengan pamor ”poleng wengkon” itu diserahkan kepada ketua panitia pembangunan kembali Keraton Solo yang terbakar, Menko Surono, waktu itu. Keris itu kemudian diberi nama Kiai Surengkaryo....

Setidaknya Empu Pauzan sudah mengerjakan tujuh pesanan keris dengan pamor ”poleng” seperti itu, di antaranya dipesan oleh seorang warga Amerika Serikat, William Koh. Juga tentunya sejumlah kolektor dari Jakarta .

Pauzan juga pernah menciptakan pamor (guratan-guratan di bilah, hasil dari lipatan tempa dari jenis logam berbeda, sehingga menghasilkan guratan motif-motif indah) yang ia namakan ”pamor kalpataru”. ”Saya memang mencoba meniru gurat-gurat pohon kalpataru,” kata Pauzan, yang dijumpai di rumahnya pada Selasa lalu.

Pauzan kini memang tidak memproduksi keris lagi. Ia mengaku ikut ”lengser” dari membuat keris setelah ”lengsernya” penguasa Orde Baru, Soeharto, menjelang tahun 2000. Maksud Pauzan, setelah Soeharto lengser, pesanan-pesanan dari para pejabat pun berhenti.

”Apalagi, sekarang sudah banyak pembuat keris muda, ada Subandi (Empu Subandi Supaningrat), Yanto, Yantono, Daliman, dan lain-lain. Di samping pula, tempaan pembuat-pembuat keris di Madura kini semakin maju pesat,” ujar Pauzan, yang kini pilih menekuni jualan barang-barang antik di kawasan Pasar Triwindu, Pasar Pon, Solo.

Sempat mati suri

Setelah sempat mengalami ”mati suri” semenjak zaman pendudukan Jepang, dunia pembuatan keris—sebuah tradisi asli negeri ini—belakangan ini kembali bangkit. Berbagai kalangan anak muda, mahasiswa seni rupa di Institut Seni Indonesia (ISI) di Surakarta, mulai menekuni seni pembuatan keris.

Di Solo, saat ini setidaknya terdapat empat besalen (tempat pembuatan keris, lengkap dengan tungku perapian untuk tempa). Selain di Kampus ISI di Kenthingan, juga ada besalen-besalen pribadi milik empu-empu muda, semacam KRT Subandi Supaningrat, Yanto, dan Yantono. Selain mengerjakan keris-keris untuk pesanan lokal, mereka juga sesekali melayani pesanan dari mancanegara (Australia, Belanda, dan Amerika).

Meningkatnya minat terhadap pembikinan keris ini terutama terpacu setelah Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) memproklamasikan pernyataan bahwa keris merupakan ”warisan budaya lisan dan tak benda karya kemanusiaan dari Indonesia” (oral and intangible heritage of humanity).

Keris, seperti halnya teater tradisional Jepang Kabuki dan musik terkenal asal Brasil Samba, diakui dunia sebagai mahakarya warisan kemanusiaan yang sampai kini masih hidup dan dihayati di Indonesia. UNESCO mengumumkan pengakuannya ini di markasnya di Paris, Perancis, 25 November 2005.

”Tradisi keris masih berlanjut di Indonesia. Berbeda dengan budaya samurai di Jepang, yang kini sebenarnya sudah mati,” kata Direktur Jenderal UNESCO Koichiro Matsuura dalam jumpa pers dengan wartawan-wartawan Indonesia di Jakarta akhir Desember 2005.

Selain dinilai masih berakar dari tradisi budaya dan sejarah masyarakat Indonesia, keris sampai saat ini memang masih berperan sebagai jati diri bangsa, sumber inspirasi budaya, dan masih menduduki posisi peran sosial di negeri ini. (Dua tahun sebelum itu, tahun 2003, UNESCO juga memproklamasikan wayang sebagai warisan budaya dunia dari Indonesia).

Meski demikian, dunia perkerisan (pembikinan keris) di Indonesia sempat mengalami masa ”mati suri”. Budaya masih berlanjut, tetapi tiada empu pembuat keris yang melakukan kegiatan tradisi nenek moyang itu. Praktis mati, semenjak pendudukan Jepang tahun 1942 sampai sekitar tahun 1975.

Sekitar tahun 1975 itu, Dietrich Drescher—yang mencintai keris—mendorong semangat Ki Yosopangarso di Godean, Yogyakarta, untuk kembali menempa keris. Ki Yoso sempat bingung lantaran ayahnya, empu keris Ki Supowinangun yang sudah mendahuluinya, tidak sempat mewariskan pengetahuan turun-temurun itu kepadanya. (Supowinangun adalah turunan dari empu-empu Majapahit).

Dietrich Drescher membangun besalen di Desa Jitar untuk Ki Yosopangarso, dibantu adik-adik Ki Yoso, yakni Genyodiharjo, Wignyosukoyo, dan Djenoharumbrojo. Kembalinya Ki Yoso menjadi pembuat keris dipandang sebagai tonggak baru dalam sejarah perkerisan Indonesia, khususnya di Jawa.

Apalagi, ternyata Dietrich Drescher yang bulan lalu mampir ke Jakarta ini juga membangkitkan keturunan ”pande” (pembuat keris) di Bali, seperti yang terjadi di Klungkung. Setelah ayahnya dibiayai Dietrich Drescher, Ktut Mudra pun meninggalkan profesinya sebagai ahli perhiasan emas, kini menjadi pembuat keris seperti dulu ayahnya.

Dietrich Drescher juga membimbing dan mengarahkan empu otodidak, Pauzan Pusposukadgo, dalam hal metode pembuatan pamor baru (pamor poleng wengkon, salah satunya), dengan desain-desainnya. Belakangan ini juga melakukan serangkaian eksperimen menyangkut pasir besi dari berbagai lokasi di pantai selatan Jawa, yang diduga dulu menjadi salah satu sumber logam untuk pembikinan keris-keris Jawa.

”Pasir-pasir penelitian dikumpulkan dari Cilacap, Kutoarjo, dan tempat lain, serta diolah di besalen saya untuk dijadikan lempeng logam penelitian,” kata Empu Subandi, yang ditemui di besalennya, di Palur, Solo, Rabu lalu. Dietrich Drescher mengumpulkan pasir-pasir laut selatan dengan mempergunakan magnet, lalu pasir-pasir besi itu dilebur di tungku besalen Subandi. Jadilah lempeng-lempeng logam—yang di antaranya sudah ada yang dimanfaatkan untuk pembuatan bahan pamor keris. Sebuah eksperimen yang tentunya berguna untuk pengembangan pengetahuan keris di Jawa pada masa mendatang.

Dietrich Drescher sendiri, di Jerman, mendorong seorang akademisi yang juga kurator museum, Achim Weihrauch, untuk menyusun disertasi akademis tentang keris. Dalam suatu kesempatan kedatangannya ke Jakarta beberapa tahun silam, Achim bahkan mengungkapkan niatnya untuk membuat katalog keris-keris Indonesia yang disimpan di berbagai museum dunia….

Nah, budaya keris yang sempat mati suri ini hidup lagi.

Fisikawan Jerman Ingin Sedot Element Ether Senjata Tradisional

Posted: Friday, August 01, 2008 by admin in Labels:
1

Ini file lama, tapi masih enak dibaca. Dikutip dari sini:

Membudidayakan Isi Alam Gaib di Muenchen

Berita IPTEK
Ahad, 11 Maret 2001, 08:38:02 Wib

Para pakar dan ahli fisika Jerman kini sedang meneliti 'element ether' (merupakan anasir non inderawi yang diyakini keberadaannya di alam supranatural) untuk dibudidayakan menjadi satu tehnologi super canggih dalam dunia persenjataan perang modern.

Kelompok ahli fisika yang telah lama mempelajari power magic dan kebanyakan telah berkeliling ke daerah magic sentral di dunia, menyelenggarakan seminar yang mempelajari tentang kekuatan supranatural senjata tradisionil termasuk keris karena senjata tradisional dari Asia seperti Indonesia, Cina dan Jepang diyakini mengandung satu power magic, yang memiliki daya gempur luar biasa.

Mereka ingin tahu tentang esoteri (kandungan magic) maupun eksoteris (hal-hal yang berhubungan dengan fisik dan proses pembuatannya) sebilah keris atau sebuah samurai. Seminar itu juga diwarnai talk show dan berbagai peragaan magic. Mereka percaya bahwa element natural bisa menghasilkan satu karya tehnologi canggih, yang melebihi kedahsyatan dan kecanggihan peralatan persenjataan modern yang kini sudah diproduksi.

Salah satu nara sumber yang diundang adalah ahli supranatural yang juga Abdi Dalem Bupati Paran Poro yang tergabung dalam Elite Paranormal Karaton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Ki Djoko Panji Hamidjoyo, BA ahli masalah keris dan senjata tradisional. Ia baru pulang ke tanah air pada awal Maret ini setelah seminar di Jerman pada Kamis, 15 Februari 2001 lalu.

Atas partisipasinya itu, awal bulan April nanti, ia akan menerima penghargaan dari Republik Fedarasi Jerman atas keahlian dan kemampuan supranaturalnya. Dalam wawancara pada 8 Maret di rumahnya, Jl Adi Sumarmo 222 Solo, ia mengatakan bahwa pertemuan diadakan di tiga kota, diantaranya Frankfurt dan Munchen.

Dalam seminar itu Ki Djoko menjadi nara sumber berkaitan dengan masalah esoteri keris dan element-element supranatural (isi alam gaib). Pertemuan kedua dengan acara talk show, dan pertemuan ketiga merupakan satu peragaan akan keberadaan power magic yang bisa ditangkap dengan panca indera.

Peramal yang menyatakan bahwa usia Soeharto masih panjang itu mengisahkan bahwa banyak peserta seminar yang menyangsikan peragakan Ki Djoko dimana ia memperagakan sebuah keris yang menjadi panas dan membara. Peserta menyangka bahwa itu adalah permainan Jin atau sihir, seperti yang sering ditampilkan David Coverfield, pesulap terkenal Dunia.

Memang tidak mudah memberi keyakinan pada orang yang alamnya berasal dari negara super canggih tehnologi seperti bule-bule ahli fisika itu.

Peragaan Ki Djoko berupa membangkitkan aura keris, yang setelah aura tersebut terpancar dan ter-asalkan, ia mampu menembus dunia fana ini sehingga bisa terlihat dan dirasakan adanya hawa panas di seputar bilah keris. Semakin banyaknya visualisasi aura maka orang akan kepanasan memegang bilah keris yang telah kelihatan membara.

Untuk meyakinkan keampuhan keris, talk show kembali menguji sebuah keris yang dipendam, namun bisa terangkat kembali tanpa digali. Ki Djoko memperagakan hal tersebut dengan cara mengubah ether (dzat) menjadi natural (sifat/materi), yakni suatu tehnik mengangkat benda-benda ber-aura dari dalam tanah tanpa menggali tanahnya.

Caranya, keris yang sengaja dipendam oleh para fisikawan di kota Frankurt tanpa sepengetahuan Ki Djoko dimana ia dipendam, ditarik lagi oleh Ki Djoko di kota Muenchen dengan kekuatan supranatural (istilah di Indonesianya, disedot) sehingga bendanya jatuh di suatu tempat yang telah disediakan di Muenchen yang berjarak 90 Km dari Frankurt.

Inilah tehnik memadukan tiga ilmu, yakni ilmu Kweron (penerawangan) dimana dengan ilmu itu dapat dideteksi keberadaan benda (keris) tersebut. Kemudian ilmu pengasalan, yaitu upaya mengubah element natural (kebendaan) menjadi element ether (dzat), kemudian dari keberadaan dzat tersebut ditarik dengan suatu kekuatan ilmu yang disebut ilmu Gebrak.

Ilmu itu mengubah dari posisi dzat ke lokasi yang dikehendaki, setelah dzat itu berada di seputar lokasi, maka dzat tersebut kemudian di-asalkan kembali pada wujudnya seperti sedia kala. Sehingga akan nampak sebilah keris seolah terbang dan jatuh ke tanah.

Berdasarkan hasil seminar termasuk hasil talk show berbagai senjata tradisional di dunia khususnya keris, fisikawan Jerman menyimpulkan bahwa jika keberadaan isi alam gaib dapat dilihat, maka orang akan bisa membudidayakannya.

Tentu saja segala sesuatunya diperlukan adaptasi dan dicari media antara yang bisa menghubungkan karakter ether yang non inderawi ke karakter duniawi yang natural. Pada saat ini fisikawan itu sedang menyimpannya dalam file-file dan mengolahnya dalam komputer dan nantinya bisa diakses di internet.

Suatu contoh, orang sudah bisa melihat dan menguasai keberadaan isi alam gaib, misalnya Yoni keris yang memiliki aura beracun seperti keris bernama Korowelang, aura keris ini lalu dibudidayakan dengan adaptasi karakter sehingga bisa eksis keberadaannya di alam dunia.

Aura keris (Yoni) tersebut bisa dikemas dalam satu hasil tehnologi duniawi, dan bisa dipakai menghancurkan musuh hanya dengan menebar aura pada sasaran yang dituju.

Akibatnya, semua orang yang tersengat aura racun tersebut bisa mati secara masal. Kematian ini tak akan mampu tertangkal lagi, selain dengan suatu element yang memiliki karakter selaras. Jadi akan lebih canggih daripada hasil ciptaan seperti RODAL, yang mana terbukti masih mampu dimentahkan keampuhannya dengan SCUT. Itu salah satu contohnya. (nn-fl,rl)