Bali Mendapat Penghargaan Keris

Posted: Friday, June 11, 2010 by admin in
4


Kamis, 10 Juni 2010 | 04:24 WIB, Jakarta, Kompas - Kolektor Bali, Anak Agung Waisnawa (44), mendapat penghargaan tertinggi Keris Kamardikan Award dalam pameran Keris for the World di Galeri Nasional, Medan Merdeka Timur, Jakarta, Selasa (8/6) malam. Agung menyisihkan lebih dari 200 peserta lainnya dengan karya kolaborasi keris Bali yang digarap oleh seorang empu asal Surabaya, Kanjeng Raden Tumenggung Hartonodiningrat.


”Saya mendapat inspirasi dari relief Singa Barong di lokasi Mrajan Alit pintu pura keluarga kami di Pura Anyar Saraswati Gianyar, Bali,” ujar Anak Agung Waisnawa, yang sehari-hari adalah karyawan PT Astra di Surabaya.

Relief Singa Barong (mirip singa Kilin di China) di pura Bali ini kemudian dipotretnya, lalu ia meminta seorang pembuat keris di Surabaya, KRT Hartonodiningrat untuk dibuatkan sebilah keris bali dengan dapur (model) Singa Damar Murub. Sebuah model keris lurus, tetapi dengan satu luk (damar murub) di ujung bilahnya, berhiaskan relief singa di bagian ”gandhik” (bawah keris, bagian depan).

Meskipun ia menghabiskan biaya lebih dari Rp 60 juta (belum termasuk emas sekitar satu ons, perak, besi, gading, dan kayu) untuk pembikinan keris yang ia beri nama Ki Singaraja ini, ia cukup puas dengan penghargaan ini. Penghargaan diberikan oleh perkumpulan keris Panji Nusantara, Sekretariat Keris Nasional Indonesia—penyelenggara Keris for the World 2010, serta penghargaan dari Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik.

Adapun si empu, KRT Hartonodiningrat, juga mendapatkan urutan kedua penghargaan tertinggi Keris Kamardikan Award, dengan karyanya sendiri yang mengetengahkan karya keris putran (kopian) dari sebuah keris lama pusaka Bali.

Peraih penghargaan ketiga juga tak kurang unik, berupa sebilah keris dengan bentuk serupa daun anturium jenis Gelombang Cinta, karya pembuat keris dari Solo, Ki Sukamdi, yang kini dimiliki kolektor keris asal Yogyakarta, Rahadi Saptata Abra (39), seorang pengusaha percetakan dan rumah makan.

Selain lomba, yang diikuti lebih dari 200 peserta dari Jawa, Madura, Bali, dan bahkan peserta dari Malaysia sejak 3 Juni lalu, Keris for the World yang diselenggarakan Panji Nusantara namun inisiatifnya dari pelukis Hardi ini juga dimeriahkan dengan sejumlah seminar, pameran lebih dari 500 keris, bursa keris, serta peluncuran buku keris setebal 320 halaman berjudul Keris for the World 2010. (sha)

Situs Purbakala Batu Kuya Hilang

Posted: Saturday, September 27, 2008 by admin in Labels:
9

Kompas, Sabtu, 27 September 2008 | 03:00 WIB

Bogor, Kompas - Sebuah batu purbakala peninggalan Kerajaan Taruma negara seberat 6 ton ”hilang” dari lokasi situsnya di hutan lindung Haur Bentes, Desa Pasir Madang, Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Batu yang dikenal masyarakat dengan nama ”Batu Kuya” itu diangkut menggunakan kontainer.

Dinamakan Batu Kuya karena batu raksasa tersebut bentuknya mirip kura-kura atau dalam bahasa Sunda disebut ”kuya”. Batu tersebut berdiameter sekitar 3 meter dan tinggi sekitar 4 meter. Pada bagian ujungnya terdapat benjolan seperti kepala kura-kura.

Hilangnya situs peninggalan abad IV atau ke V tersebut terlambat diketahui aparat setempat. Namun, saat pemindahan batu situs tersebut dengan menggunakan alat-alat berat dan diangkut truk tronton, Selasa (23/9), banyak anggota masyarakat yang melihatnya.

”Begitu mendapat laporan dari masyarakat, Kamis (25/9), kami langsung ke lokasi, namun truk tronton sudah tidak ada. Kami kejar ke Kecamatan Leuwiliang juga sudah tidak ada. Kami mendengar truk tronton tersebut sudah ada di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, dan batu situs akan dikirim ke luar negeri,” kata Kepala Bidang Budaya, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bogor Boy Gyawarman di Bogor, Jumat (26/9).

Menurut Gyawarman, hilangnya situs batu kuya dari tempatnya sudah dilaporkan ke Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Kabupaten Serang, yang mengawasi kelestarian situs-situs sejarah/purbakala di Jawa Barat dan Banten. Laporan serupa juga disampaikan ke Direktorat Peninggalan Purbakala Departemen Kebudayaan dan Pariwisata.

”Menurut pejabat di direktorat itu, dipastikan situs batu purbakala ini masih berada di Indonesia,” katanya.

Gyawarman menambahkan, pihaknya memang sudah mencatat keberadaan situs purbakala di hutan lindung Haur Bentes, Kecamatan Sukajaya. Ada beberapa situs di kawasan hutan lindung tersebut yang berada di permukaan tanah.

”Namun, identifikasi dan deskripsi terhadap situs-situs yang ada belum dilakukan karena anggaran yang sangat terbatas,” ujarnya.

Meski demikian, situs tersebut kemungkinan besar peninggalan Kerajaan Tarumanegara, yang merupakan kerajaan tertua di Nusantara. Kerajaan Hindu yang didirikan Rajadirajaguru Jayasingawarman tahun 358 Masehi ini meninggalkan tujuh prasasti yang tersebar di Bogor dan Jakarta.

Dibuat jalan

Sejumlah anggota masyarakat yang menyaksikan pemindahan batu tersebut mengatakan, alat-alat berat dikerahkan untuk mengangkut batu situs tersebut. Untuk menuju lokasi situs di kawasan hutan lindung Haur Bentes juga dibuat jalan selebar 3 sampai 4 meter.

Ukat Sukatma, tokoh adat Sindang Barang dan pemerhati situs-situs di Bogor, mengatakan terkejut ketika melihat truk tronton mengangkut batu situs. Apalagi ketika melihat ”kepala kuya” atau kurang-kura dipotong untuk memudahkan pengangkutan. ”Namun, saya tidak bisa berbuat apa-apa,” ujarnya.

Di sekitar kawasan hutan lindung tersebut juga terdapat situs-situs lainnya, seperti yang berbentuk buaya dan orang. Namun, semua situs tersebut dibiarkan telantar. (RTS)

Penemuan Arca di Kediri Bertambah

Posted: Saturday, September 13, 2008 by admin in Labels:
1

Diperkirakan Berumur 800 Tahun
Kompas, Sabtu, 13 September 2008 | 00:53 WIB

Kediri, Kompas - Jumlah arca yang ditemukan di Desa Sumbercangkring, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, bertambah. Warga menemukan arca baru, yakni arca Nandi atau arca berbentuk sapi jantan dan dua buah batu ambang yang terpotong menjadi tiga bagian.

Kepala Seksi Seni Budaya Dinas Pariwisata Kabupaten Kediri Suradi, Jumat (12/9), saat ditemui di lokasi, mengatakan, Arca Nandi merupakan lambang kendaraan Dewa Siwa itu ditemukan di belakang rumah warga sekitar 200 meter dari lokasi ditemukannya arca-arca lainnya.

Adapun dua buah batu ambang yang sudah terpotong menjadi tiga bagian itu ditemukan di lokasi yang sama dengan penemuan arca sebelumnya. Batu ambang itu diambil warga dari tanah yang berjarak hanya 50 meter dari lokasi penemuan arca-arca.

Temuan benda-benda itu melengkapi temuan sebelumnya, yakni potongan kepala arca Dwarapala, fragmen kepala Ganesha, dan sebuah arca kepala yang sampai kemarin belum bisa diidentifikasi wujudnya, serta relief Betara Kala yang biasanya dipasang di atas gapura candi, ditambah balok batu berukuran besar dan ribuan potong batu bata besar lazimnya yang digunakan untuk membangun candi.

Berumur 800 tahun

Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Timur memperkirakan umur benda bersejarah tersebut telah mencapai 800 tahun atau dibuat pada abad XII di masa transisi Kerajaan Mataram Hindu dari Jawa Tengah ke Jawa Timur.

Benda bersejarah itu ditemukan oleh tiga pekerja pembuat batu bata di Desa Sumbercangkring saat sedang menggali tanah. Benda bersejarah itu tertanam pada kedalaman 1-1,5 meter.

Menurut Suradi, arca Nandi biasanya diletakkan di sebuah bangunan candi (tempat pemujaan) bersama dengan arca dewa-dewa lainnya. ”Kalau di suatu tempat ditemukan arca Nandi, besar kemungkinan di situ juga akan ditemukan arca-arca yang lain,” katanya.

Sementara itu, batu ambang adalah sebuah batu berbentuk persegi empat, berukuran besar, yang diletakkan di pintu masuk sebuah candi.

Nekat gali arca

Lokasi penemuan arca di ladang milik Imam Syafii, perangkat Desa Sumbercangkring, kemarin, kembali digali warga. Mereka menggunakan berbagai alat penggali tanah manual untuk mencari kemungkinan adanya arca-arca lain. Akibat penggalian itu, ratusan struktur batu bata merah yang diduga dibuat pada abad XII hancur berantakan. Lubang-lubang besar pun menganga di banyak bagian dan tidak beraturan.

Padahal, Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Timur telah melarang dengan alasan untuk menjaga kelestarian dan mencegah dari kerusakan. Sebab, penggalian yang sembarangan rawan menimbulkan kerusakan.

Kepala Desa Sumbercangkring Mujiana mengatakan, penggalian dilakukan untuk menemukan arca-arca lainnya. Warga menyakini di tempat tersebut masih banyak benda peninggalan purbakala yang tertanam dan bernilai sejarah tinggi. (NIK)

Letusan Krakatau di Mata Pribumi

Posted: Friday, September 12, 2008 by admin in Labels:
0

Kompas, Jumat, 12 September 2008 | 03:00 WIB

YURNALDI

(Orang banyak nyatalah tentu, Bilangan lebih daripada seribu, Mati sekalian orangnya itu, Ditimpa lumpur, api, dan abu.

Pulau Sebuku dikata orang, Ada seribu lebih dan kurang, Orangnya habis nyatalah terang, Tiadalah hidup barang seorang.

Rupanya mayat tidak dikatakan, Hamba melihat rasanya pingsan, Apalah lagi yang punya badan, Harapkan rahmat Allah balaskan.)

Berita ditemukannya satu-satunya sumber pribumi tertulis yang memuat kesaksian mengenai letusan Gunung Krakatau pada tahun 1883, mengejutkan banyak orang. Dalam tempo 48 jam, berita yang dimuat pertama kali di Kompas online (www.kompas.com) itu diunduh sekitar 14.000 orang dari berbagai belahan dunia. Kemudian berita itu dikutip berbagai media.

Menariknya, tidak hanya ditemukan 125 tahun setelah gunung tersebut meletus, tetapi ditemukan terpisah-pisah dalam bentuk naskah kuno, yang tersimpan di enam negara, yakni Inggris, Belanda, Jerman, Rusia, Malaysia, dan Indonesia.

Adalah ahli filologi dan dosen/peneliti di Leiden University, Suryadi, yang mengungkapkan semua itu, setelah melakukan penelitian komprehensif selama lebih kurang dua tahun. Setelah ia alihaksarakan naskah kuno tersebut, ternyata catatan saksi mata dalam bentuk syair itu mengungkapkan banyak hal secara humanis, bagai laporan seorang jurnalis.

”Laporan orang asing yang selama ini ada tentang letusan Gunung Krakatau tahun 1883 itu lebih menekankan aspek geologisnya. Letusan itu menewaskan lebih dari 36.000 orang. Adapun laporan Muhammad Saleh lebih pada aspek humanis, kemanusiaan, akibat letusan itu,” kata Suryadi, yang sebelumnya juga menemukan bagian sejarah dinasti Kerajaan Gowa yang hilang.

Kesaksian langka

Jauh sebelum peneliti asing menulis tentang meletusnya Gunung Krakatau (Krakatoa, Carcata) tanggal 26, 27, dan 28 Agustus 1883, seorang pribumi telah menuliskan kesaksian yang amat langka dan menarik, tiga bulan pascameletusnya Krakatau, melalui Syair Lampung Karam, yang tiga bait di antaranya telah dikutipkan di atas.

Menurut Suryadi, kajian-kajian ilmiah dan bibliografi mengenai Krakatau hampir-hampir luput mencantumkan satu-satunya sumber pribumi tertulis, yang mencatat kesaksian mengenai letusan Krakatau di tahun 1883 itu. ”Dua tahun penelitian, saya menemukan satu-satunya kesaksian pribumi dalam bentuk tertulis,” katanya.

Sebelum meletus tanggal 26, 27, dan 28 Agustus 1883, gunung Krakatau telah batuk-batuk sejak 20 Mei 1883. Letusan dahsyat Krakatau menimbulkan awan panas setinggi 70 kilometer dan tsunami setinggi 40 meter dan menewaskan sekitar 36.000 orang.

Sebelum meletus pada 1883, Gunung Krakatau di Selat Sunda pernah meletus sekitar tahun 1680. Letusan itu memunculkan tiga pulau yang saling berdekatan; Pulau Sertung, Pulau Rakata Kecil, dan Pulau Rakata.

Suryadi menjelaskan, selama ini yang menjadi bacaan tentang letusan Gunung Krakatau adalah laporan penelitian lengkap GJ Symons dkk, The Eruption of Krakatoa and Subsequent Phenomena: Report of the Krakatoa Committee of the Royal Society (London, 1888).

Adapun sumber tertulis pribumi terbit di Singapura dalam bentuk cetak batu (litography) tahun 1883/1884. Kolofonnya mencatat 1301 H (November 1883-Oktober 1884). Edisi pertama ini berjudul Syair Negeri Lampung yang Dinaiki oleh Air dan Hujan Abu (42 halaman).

”Tak lama kemudian muncul edisi kedua syair ini dengan judul Inilah Syair Lampung Dinaiki Air Laut (42 halaman). Edisi kedua ini juga diterbitkan di Singapura pada 2 Safar 1302 H (21 November 1884),” paparnya.

Edisi ketiga berjudul Syair Lampung dan Anyer dan Tanjung Karang Naik Air Laut (49 halaman), yang diterbitkan oleh Haji Said. Edisi ketiga ini juga diterbitkan di Singapura, bertarikh 27 Rabiulawal 1301 H (3 Januari 1886). Dalam beberapa iklan, edisi ketiga ini disebut Syair Negeri Anyer Tenggelam.

”Edisi keempat syair ini, edisi terakhir sejauh yang saya ketahui, berjudul Inilah Syair Lampung Karam Adanya (36 halaman). Edisi keempat ini juga diterbitkan di Singapura, bertarikh 10 Safar 1306 Hijriah (16 Oktober 1888),” ungkap Suryadi, yang puluhan hasil penelitiannya telah dimuat di berbagai jurnal internasional.

Terdapat variasi

Menurut Suryadi, khusus teks keempat edisi syair itu ditulis dalam bahasa Melayu dan memakai aksara Arab-Melayu (Jawi). Dari perbandingan teks yang ia lakukan terdapat variasi yang cukup signifikan antara masing-masing edisi. Ini mengindikasikan pengaruh kelisanan yang masih kuat dalam tradisi keberaksaraan yang mulai tumbuh di Nusantara pada paruh kedua abad ke-19.

Suryadi yang berhasil mengidentifikasi tempat penyimpanan eksemplar seluruh edisi Syair Lampung Karam yang masih ada di dunia sampai saat ini menyebutkan, Syair Lampung Karam ditulis Muhammad Saleh. Ia mengaku menulis syair itu di Kampung Bangkahulu (kemudian bernama Bencoolen Street) di Singapura.

”Muhammad Saleh mengaku berada di Tanjung Karang ketika letusan Krakatau terjadi dan menyaksikan akibat bencana alam yang hebat itu dengan mata kepalanya sendiri. Sangat mungkin si penulis syair itu adalah seorang korban letusan Krakatau yang pergi mengungsi ke Singapura dan membawa kenangan menakutkan tentang bencana alam yang mahadahsyat itu,” katanya.

Revitalisasi

Suryadi berpendapat, Syair Lampung Karam dapat dikategorikan sebagai ”syair kewartawanan” karena lebih kuat menonjolkan nuansa jurnalistik. Dalam Syair Lampung Karam yang panjangnya 38 halaman dan 374 bait itu, Muhammad Saleh secara dramatis menggambarkan bencana hebat yang menyusul letusan Gunung Krakatau pada tahun 1883.

Ia menceritakan kehancuran desa-desa dan kematian massal akibat letusan itu. Daerah-daerah seperti Bumi, Kitambang, Talang, Kupang, Lampasing, Umbulbatu, Benawang, Badak, Limau, Lutung, Gunung Basa, Gunung Sari, Minanga, Kuala, Rajabasa, Tanjung Karang, juga Pulau Sebesi, Sebuku, dan Merak luluh lantak dilanda tsunami, lumpur, serta hujan abu dan batu.

Pengarang menceritakan betapa dalam keadaan yang memilukan dan kacau-balau itu orang masih mau saling menolong satu sama lain. Namun, tak sedikit pula yang mengambil kesempatan untuk memperkaya diri sendiri dengan mengambil harta benda dan uang orang lain yang ditimpa musibah.

Selain menelusuri edisi-edisi terbitan Syair Lampung Karam yang masih tersisa di dunia sampai sekarang, penelitian Suryadi juga menyajikan transliterasi (alih aksara) teks syair ini dalam aksara Latin.

”Saya berharap Syair Lampung Karam dapat dibaca oleh pembaca masa kini yang tidak bisa lagi membaca aksara Arab-Melayu (Jawi). Lebih jauh, saya ingin juga membandingkan pandangan penulis pribumi (satu-satunya itu) dengan penulis asing (Belanda/Eropa) terhadap letusan Gunung Krakatau,” tutur Suryadi.

Peneliti dan dosen Leiden University ini menambahkan, teks syair ini bisa direvitalisasi untuk berbagai kepentingan, misalnya di bidang akademik, budaya, dan pariwisata. Salah satunya adalah kemungkinan untuk mengemaskinikan teks Syair Lampung Karam itu dalam rangka agenda tahunan Festival Krakatau. Juga dapat direvitalisasi dan diperkenalkan untuk memperkaya dimensi kesejarahan dan penggalian khazanah budaya dan sastra daerah Lampung.

Ledakan Alam Semesta

Posted: Wednesday, September 10, 2008 by admin in Labels:
0


Kompas, Rabu, 10 September 2008 | 00:58 WIB

Chatief Kunjaya

Pada hari-hari ini, para fisikawan, astronom, dan kosmolog banyak memperbincangkan tentang suatu percobaan yang akan dilakukan untuk menyimulasi kondisi alam semesta pada saat baru dilahirkan, yaitu beberapa saat setelah Ledakan Besar atau Big Bang. Bagaimana kondisi alam semesta di awal kelahirannya?

Percobaan itu akan dilakukan di sebuah laboratorium fisika partikel baru yang terbesar di dunia saat ini, yaitu berupa akselerator partikel berbentuk cincin dengan keliling sepanjang 27 kilometer. Di dalam akselerator itu partikel, misalnya proton, ditembakkan dan gerakannya dipercepat hingga mendekati kecepatan cahaya. Kondisi kecepatan setinggi itu berkorelasi dengan temperatur yang sangat tinggi, yang diperkirakan mirip dengan keadaan alam semesta pada saat baru lahir.

Ledakan besar

Bagaimana para fisikawan dapat menduga bahwa alam semesta bermula dari sebuah ledakan besar? Dugaan itu bermula dari hasil pengamatan Edwin Hubble terhadap galaksi-galaksi. Galaksi adalah kumpulan bermiliar-miliar bintang seperti Matahari. Matahari sendiri hanyalah salah satu bintang kecil dari sekitar seratus miliar bintang anggota galaksi Bima Sakti atau Milky Way dalam bahasa Inggris. Di luar Bima Sakti masih ada jutaan galaksi-galaksi yang lain.

Pada tahun 1929, Hubble mendapati bahwa hampir semua galaksi garis-garis spektrumnya bergeser ke arah riak gelombang yang lebih panjang (lebih merah). Gejala ini kemudian terkenal dengan nama Redshift atau pergeseran merah. Semakin jauh suatu galaksi semakin jauh garis-garis spektrumnya bergeser ke arah yang lebih merah.

Pergeseran merah ini, berdasarkan prinsip hukum Doppler, merupakan pertanda bahwa galaksi-galaksi itu bergerak menjauhi galaksi Bima Sakti tempat kita bermukim. Karena galaksi-galaksi ada di berbagai arah secara merata, tentunya jarak antara satu galaksi dan galaksi lainnya juga menjauh.

Jika semua galaksi sedang saling menjauhi, tentunya di masa lalu jaraknya lebih dekat. Di masa yang lebih lampau jaraknya lebih dekat lagi. Tentunya logis jika disimpulkan bahwa pada suatu saat galaksi-galaksi itu sangat berdekatan. Maka muncullah sebuah teori yang menyatakan bahwa alam semesta lahir dari sebuah Ledakan Besar (Big Bang). Perhitungan menunjukkan bahwa ledakan besar itu terjadi sekitar 13,7 miliar tahun yang lalu.

Setelah terjadi ledakan besar, dalam jangka waktu 10-35 detik terjadi inflasi. Pada saat inflasi itu alam semesta mengembang dengan sangat cepat. Pada awalnya alam semesta didominasi oleh energi radiasi. Kemudian mulailah terbentuk partikel- partikel yang lebih elementer dari proton, seperti quark, gluon dan lepton.

Sepersejuta detik setelah ledakan besar, mulailah terbentuk partikel-partikel baryon, seperti proton dan neutron dari quark dan gluon. Atom hidrogen yang terbentuk dari bergabungnya elektron dan proton baru ada 379.000 tahun setelah Ledakan Besar. Selanjutnya terjadi penggumpalan awan-awan atom yang kelak akan menjadi galaksi-galaksi. Di dalam galaksi-galaksi kemudian lahirlah bintang-bintang, seperti Matahari.

Large Hadron Collider

Bagaimana keadaan alam semesta ketika baru saja lahir melalui Ledakan Besar itu? Masih penuh misteri. Oleh karena itu, para ilmuwan berikhtiar untuk mengetahuinya dengan membuat suatu miniatur yang diduga mirip alam semesta di masa lalu.

Salah satu caranya adalah dengan membuat pemercepat partikel (accelerator). Di dalam pemercepat partikel, sekumpulan proton ditembakkan lalu dipercepat hingga 99,999999% kecepatan cahaya dan memiliki energi hingga 7 TeV (Tera electron volt, atau triliun eV). Kondisi kecepatan yang sangat tinggi ini juga berarti temperatur yang sangat tinggi, mencapai miliaran derajat Celsius yang diperkirakan setara dengan temperatur alam semesta ketika baru lahir.

Dari arah lain juga ditembakkan dan dipercepat sekumpulan proton. Dalam keadaan kecepatan setinggi itu, proton-proton dari kedua arah ditumbukkan sehingga diharapkan bisa ”pecah”. Karena alat itu merupakan tempat proton bertumbukan, maka diberi nama Large Hadron Collider (LHC). Hadron adalah istilah untuk partikel-partikel elementer sekelas proton dan neutron.

Large Hadron Collider berupa sebuah terowongan berbentuk lingkaran di dekat perbatasan Swiss dan Perancis. Keliling LHC adalah sekitar 27 kilometer, ditanam di dalam tanah pada kedalaman 50 hingga 175 meter.

Pecahan yang dihasilkan dari tumbukan antarproton itu merupakan partikel yang lebih elementer yang membentuk proton dan neutron. Pada percobaan sebelumnya dengan akselerator yang lebih kecil, seperti Tevatron di Fermi National Accelerator Laboratory di Batavia, Illinois, Amerika Serikat, telah ditemukan beberapa macam quark yang menjadi bahan dasar proton. Diharapkan dengan akselerator baru yang lebih besar dan lebih kuat, seperti LHC, dapat ditemukan jenis-jenis partikel lain yang hanya bisa ada dalam keadaan temperatur yang sangat tinggi.

Proyek LHC didukung oleh konsorsium riset fisika partikel yang terdiri dari 20 negara. Ilmuwan Indonesia berpotensi ikut dalam proyek garis depan, seperti LHC, asalkan mendapat dukungan dari pemerintah.

Chatief Kunjaya, Dosen Program Studi Astronomi FMIPA Institut Teknologi Bandung

Sebanyak 253 Manuskrip Diselamatkan dari Kepunahan

Posted: by admin in Labels:
0

Kompas, Rabu, 10 September 2008 | 00:59 WIB

Padang, Kompas - Sejumlah 253 manuskrip telah didokumentasikan dalam cakram atau compact disc. Upaya ini dilakukan untuk mengantisipasi kepunahan manuskrip akibat kertas untuk menulis manuskrip sebagian besar sudah rusak parah.

Dokumentasi ini dikerjakan oleh aplikan Zuriati, ko-aplikan M Yusuf, dibantu tim dari Fakultas Sastra Universitas Andalas, Padang. Pendanaan proses ini berasal dari hibah British Library.

Manuskrip yang berhasil diselamatkan tersebut berasal dari lima daerah yang berbeda. Lokasi pertama adalah Surau Bintungan Tinggi di Padang Bintungan, Kecamatan Nan Sabaris, Kabupaten Padang Pariaman. Di lokasi pertama terdapat 36 manuskrip.

Tempat kedua adalah Surau Lubuk Ipuh, Kecamatan Kuraitaji, Kabupaten Padang Pariaman. Manuskrip yang berhasil diselamatkan sejumlah 82 buah. Di Surau Pariangan, Kecamatan Parak Laweh, Kabupaten Tanah Datar, terdapat 33 manuskrip yang diselamatkan.

Di Surau Tanjung yang terletak di Nagari Ampek Koto Hilia, Kecamatan Batang Kapeh, Kabupaten Pesisir Selatan, terdapat 23 manuskrip. Di Surau Malolo terdapat 79 manuskrip yang didokumentasikan secara digital.

Proses dokumentasi dilakukan dengan memotret lembar-lembar manuskrip dan menyimpan foto-foto dokumentasi dalam cakram. Dengan demikian, isi manuskrip tersebut dapat dipakai berulang-ulang tanpa harus khawatir naskah manuskrip menjadi rusak.

”Kami akan menyerahkan salinan cakram ke surau yang memiliki manuskrip itu. Harapannya, mereka bisa mempelajari isi manuskrip,” tutur Yusuf di Padang, Selasa (9/9).

Yusuf memperkirakan ada ribuan naskah yang tersimpan di surau-surau di Sumatera Barat. Sebagian besar naskah berada dalam kondisi rusak.

”Kerusakan naskah terutama akibat ketidakpahaman pemilik manuskrip akan arti penting manuskrip ini,” ujar Yusuf.

Sebagian manuskrip ditemukan sudah berbentuk serpihan dan teronggok di sudut surau atau rumah pemilik. Ada pula manuskrip yang disalahgunakan dengan dijadikan jimat oleh masyarakat setempat. (ART)

Tiga Arca Kuno Ditemukan, Ratusan Lainnya Ditahan Polisi

Posted: by admin in Labels:
2

Dari Kompas, Rabu, 10 September 2008 | 03:00 WIB

Kediri, Kompas - Tiga arca, sebuah relief, dan ratusan pecahan balok batu bata yang diduga berasal dari zaman kerajaan silam di Desa Sumbercangkring, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, ditemukan.

Di Boyolali, Jawa Tengah, Selasa (9/9) dini hari, operasi gabungan polisi terpaksa menahan 473 barang yang diduga benda cagar budaya, yaitu patung, keris, dan batu akik, dari sebuah mobil yang ditumpangi empat orang.

Kepala Seksi Seni Budaya Dinas Pariwisata Kabupaten Kediri Suradi, Selasa, menjelaskan, benda purbakala yang ditemukan meliputi potongan kepala arca Dwarapala setinggi 98 sentimeter (cm), lebar 105 cm, dan tebal 45 cm; fragmen kepala Ganesha (tinggi 16 cm, lebar 17 cm, tebal 17 cm); dan sebuah arca kepala yang belum bisa diidentifikasikan wujudnya (tinggi 48 cm, lebar 45 cm, dan tebal 35 cm).

Selain itu, ditemukan juga relief Batara Kala (raksasa) yang biasanya dipasang di atas gapura candi. Tinggi relief ini 60 cm, tebal 18 cm, dan lebar 78 cm.

Lokasi penemuan berada di ladang yang digali untuk membuat batu bata merah milik Imam Syafii, perangkat desa Sumbercangkring. Penemunya adalah tiga penggali tanah, yaitu Saiin (47), Prapto (23), dan Kasan (27).

Menurut Saiin, benda pertama yang ditemukan adalah relief Batara Kala pada 29 Agustus di lubang sebelah timur dengan kedalaman sekitar satu meter. Saat itu relief dalam posisi telentang. Masih di tempat yang sama, terdapat balok batu dengan panjang 70 cm, lebar 78 cm, dan tebal 18 cm. Pada 31 Agustus 2008, pekerja kembali menemukan arca Dwarapala di lubang baru, tiga meter di sebelah barat lubang pertama. Arca penjaga pintu gerbang itu ditemukan di kedalaman 1,45 meter.

Pada Senin (1/9) mereka kembali menemukan arca Ganesha dan arca kepala yang belum bisa diidentifikasikan wujudnya. Lima meter sebelah utara lokasi penemuan arca terdapat balok batu sepanjang 64 cm, lebar 76 cm, dan tebal 26 cm yang menyembul dari permukaan tanah.

Kepala Kepolisian Resor Boyolali Ajun Komisaris Besar Agus Suryo Nugroho melalui Kepala Satuan Reskrim Polres Boyolali Inspektur Satu Asnanto mengatakan, barang-barang yang tersimpan dalam koper dan di sejumlah kardus itu diamankan saat polisi menggelar operasi gabungan di depan Polsek Andong.

”Kami mencurigai karena mobil ini mengangkut banyak barang antik. Sementara ini kami bawa ke polres untuk diperiksa karena dikhawatirkan merupakan benda cagar budaya atau hasil curian,” kata Asnanto.

Benda-benda itu diangkut dengan menggunakan mobil pribadi oleh Agus (36), Muhamad Rozak (25), Sareh (53), dan Samsul Huda (36), semuanya berasal dari Jawa Timur.

Samsul Huda mengaku barang-barang itu milik kerabatnya yang akan pindah dari Mojokerto ke Jakarta. Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Tengah, yang turut memeriksa, menyatakan, sebagian besar patung terpengaruh budaya China. (NIK/GAL)

Keris Berpamor Besi Meteorit

Posted: Sunday, August 31, 2008 by admin in Labels:
4

Oleh Jimmy S Harianto

Benda angkasa yang jatuh dari langit jika masih tersisa di atas bumi dianggap sebagai benda ampuh. Tak heran, jika benda yang pernah melewati jarak ribuan, bahkan jutaan kilometer dan nyaris terbakar habis ketika memasuki atmosfer bumi ini, lalu dipakai oleh orang masa lalu sebagai bahan pembuat pamor keris.

Tergerak oleh cerita bahwa keris-keris tua pada masa lalu ada yang menggunakan bahan pamor dari ”benda langit yang gaib” meteor, maka Ferry Febrianto—penggemar keris yang kebetulan seorang insinyur—menjelajahi dunia maya, berkomunikasi dengan komunitas kolektor meteor, dan membolak-balik buku kepustakaan tentang benda langit meteor lebih dari tiga tahun.

Intinya, dia ingin membuat keris dengan bahan pamor meteor sungguhan. (Pamor adalah guratan motif yang muncul dari hasil lipatan besi yang ditempa, biasanya beda warna). Meteor yang nyata-nyata bersertifikat dan ia tahu persis apa jenisnya, tempat jatuhnya, serta karakteristiknya.

Selama ini orang percaya bahwa pada masa lalu banyak keris tua memakai bahan pamor besi meteor yang jatuh di Prambanan pada abad ke-19. Akan tetapi, kesulitannya, ”meteor” jenisnya apa ini dan sebenarnya kapan persisnya benda langit itu jatuh di wilayah Prambanan, tak ada catatan ilmiahnya. (Sisa-sisa bongkahan yang ada sekitar 15 kg dan dipercaya sisa meteor Prambanan itu masih disimpan, dikeramatkan di Keraton Surakarta dengan julukan Kanjeng Kiai Pamor).

Karena batu pamor yang bersertifikat nilainya mahal, Ferry pun mencari kawan untuk menanggung bersama biaya eksperimen ”keris berpamor meteorit” ini. Jatuhlah pilihan kepada sesama penggemar keris yang berbeda profesi dengannya. Mereka adalah Dr Dharmawan Witjaksono SpPD (dokter) dan Dipl Ing Stanley Hendrawidjaja Arch (arsitek).

”Harga besi meteor di tangan kolektor sekitar 2 dollar AS (hampir Rp 20.000) per gram,” ujar Ferry. Sekitar 100 gram besi meteor, menurut Ferry, bisa dipakai untuk bahan pamor tiga keris. Meteor itu ia pesan via internet melalui kolektor meteor, Jack Lacroix. Ada tiga keping besi meteorit bersertifikat yang akan dipakai (jenis kamasite, kategorinya coarse atau kasar), seberat sekitar 600 gram. Besi meteorit berasal dari meteor yang jatuh di Campo del Cielo, Argentina.

”Menurut info dari James Hroulias (ahli metalurgi yang juga ahli tempa besi bersertifikat dari AS), menempa besi meteorit merupakan proses berisiko tinggi, dengan tingkat kegagalan mencapai 9 dari 10 kasus,” tutur Ferry. Menurut James yang ahli pembuat pisau, besi meteorit kalau dipijar dan ditempa begitu saja akan hancur berantakan.

Karena itu, Ferry berkonsultasi dengan seorang empu keris berpengalaman—yang pernah menjadi empu Keraton Surakarta, Empu Pauzan Puspasukadgo dari Solo. (Seorang penggemar keris dari Australia, Alan Massey, pada tahun 1996 pernah melakukan eksperimen ini, memesan keris dengan bahan besi meteorit yang ia bawa. Keris berpamor meteorit ini kemudian digarap oleh empu muda, Yohannes Yantono, di Palur, Solo—lihat Kompas, Selasa, 20 Agustus 1996).

Harus ”ditapih”

Inilah sebuah teknologi tempa, yang mungkin dulu juga dipakai oleh empu-empu kita pada masa lalu. Supaya lempengan besi meteorit tidak hancur berantakan, lempeng-lempeng besi meteor itu harus ”ditapih”. Maksudnya, lempeng-lempeng meteor itu dibungkus besi, baru kemudian dipijar di bara api arang kayu jati—lebih dari 1.000 derajat Celsius—lalu ditempa.

”Tapih” adalah kain sarung, yang biasa dipakai untuk membungkus bagian bawah badan manusia tradisional Jawa. Teknik tempa ”menapih” seperti kain sarung inilah yang dipakai (Empu Solo) Daliman dan tiga panjaknya (pembantu tempa) untuk membuat bahan pamor dari meteor Argentina itu.

Bakalan saton (tempaan lempeng besi yang sudah mengandung bahan pamor meteorit) kemudian dikirim ke Haji Shaleh di Sumenep, Madura. Garapan keris dilakukan seorang pembuat keris muda Madura, M Jamil.

Dari 300 gram bahan besi meteorit Campo del Cielo (separuh dari keseluruhan 600 gram), jadilah sembilan bilah keris dengan berbagai motif pamor, menurut pilihan Ferry, Dharmawan, maupun Stanley. Nama keris pun dimiripkan dengan asal besi meteorit itu, ”kanjeng kiai kampuh”.

Mengapa dipilih bahan meteorit yang ”kasar”? Menurut Ferry, justru meteor yang tidak halus (fine) biasanya menampakkan kristal dengan pola ”motif meteor” (istilah khas bagi meteor adalah Widmanstaten pattern) yang lebih indah. Semakin bagus pola Widmanstaten-nya besi meteor, semakin unik pula nanti jadinya jika muncul di dalam pamor. Gradasi warnanya tak terduga, lebih menarik daripada sekadar pola gemerlap datar dari bahan nikel.

Nilai nonbendawi

Orang Jawa memang suka dengan hal-hal gaib, terkadang di luar akal, dan mengaitkannya dengan kenyataan hidup sehari- hari. Seperti pamor keris dari bahan meteor, mengapa dulu laris dipakai untuk bahan keris pesanan para raja?

Selain kelangkaan bendanya, juga dipercaya benda yang jatuh dari langit ”memiliki tuah yang gaib”. Wahyu pun—legitimasi spiritual untuk simbol keabsahan sebuah tindakan pada masa lalu—juga sering dikait-kaitkan dengan hal-hal ”dari langit”.

Tak heran pula, jika dari sisa- sisa bongkahan besi meteor Prambanan, kemudian dijadikan semacam pusaka. Ditaruh di sebuah tempat khusus—semacam kandang atau kurungan—dan dikeramatkan sebagai pusaka Kanjeng Kiai Pamor di Keraton Surakarta Hadiningrat.

”Tadinya kami ingin memakai bahan dari Kanjeng Kiai Pamor. Akan tetapi, karena tidak memiliki akses, lebih baik kami mencari besi meteorit dari luar negeri, melalui internet,” tutur Ferry pula, yang mengaku kini kembali melakukan eksperimen berikut: apakah pamor meteorit itu juga bisa diukir (karena begitu kerasnya)....

”Semua proses kali ini akan kami lakukan di Solo, dari menempa bahan sampai penyelesaian kerisnya,” kata Ferry pula.

Apa yang dilakukan Ferry dan kawan-kawan ini ternyata membangkitkan keinginan serupa di kalangan orang muda lainnya yang menyukai keris. Jangan heran, jika pada masa datang ini, orang akan ramai ”berburu” besi meteor. Entah langsung ke lokasi di berbagai pelosok Jawa, atau di dunia maya.


Delapan Watak Pemimpin Jawa

Posted: Saturday, August 16, 2008 by admin in Labels:
0

dari Kompas, Sabtu, 16 Agustus 2008 | 03:00 WIB
Indra Tranggono

Setiap komunitas memiliki seperangkat pengertian dan perilaku, baik yang berasal dari generasi-generasi sebelumnya maupun dari pengalaman komunitas tersebut. Semacam kekuatan atau kemampuan komunitas itu untuk menyelesaikan secara baik dan benar berbagai persoalan serta kesulitan yang dihadapi.

Dalam proses waktu, rangkaian perilaku dan pengertian itu mengkristal dan menjadi sekumpulan nilai atau ajaran moral, yang kemudian secara umum dikenal sebagai local wisdom alias kearifan lokal. Dan secara praktis, kearifan lokal dapat dilihat dalam dua dimensi. Pertama adalah pengetahuan dan kedua adalah praktiknya berupa pola-pola interaksi dan perilaku atau tindakan.

Jawa adalah salah satu etnik yang juga memiliki kearifan lokal. Juga dalam soal kepemimpinan. Bahkan soal ini mendapat perhatian yang cukup serius. Karena, antara lain, ia selalu dikaitkan dengan nilai-nilai ideal yang berorientasi kepada dunia supranatural. Katakanlah semacam dewa, Tuhan, dan lainnya.

Hal itu, antara lain, tercermin dalam pandangan orang Jawa terhadap pemimpin, raja misalnya, yang dianggap sebagai ”wakil/titisan” dewa atau Tuhan di muka bumi. Tugas mulia seorang pemimpin ini terutama menciptakan kehidupan yang harmonis antara manusia, alam, dan Tuhan. Di mana salah satu pilar utama hidup harmonis itu adalah keadilan.

Oleh karenanya, pemimpin yang baik adalah dia yang mampu menerjemahkan nilai-nilai keadilan dalam praksis kehidupan. Orang-orang yang dipimpin harus mendapatkan rasa adil dan kesejahteraan lahir dan batin.

Dalam konteks ramainya kontes pemilihan pemimpin, tingkat lokal dan nasional belakangan ini, mungkin baik menakar bagaimana kearifan lokal Jawa menawarkan standar kepemimpinan idealnya.

Astabratha

Sebagai etnik terbesar, Jawa memiliki konsep tersendiri tentang bagaimana kepemimpinan yang seharusnya. Konsep yang disebut Astabratha itu menilai pemimpin antara lain harus memiliki sifat ambek adil paramarta atau watak adil merata tanpa pilih kasih (Ki Kasidi Hadiprayitno, 2004). Secara rinci konsep ini terurai dalam delapan (asta) watak: bumi, api, air, angin, angkasa, matahari, bulan, dan bintang atau dalam bahasa Jawa disebut bumi, geni, banyu, angin, langit, surya, candra, dan kartika.

Pertama, watak bumi yang harus dimiliki seorang pemimpin mendorong dirinya untuk selalu memberi kepada sesama. Ini berdasarkan analog bahwa bumi merupakan tempat untuk tumbuh berbagai tumbuhan yang berbuah dan berguna bagi umat manusia.

Kedua, geni atau api. Pemimpin harus memiliki sifat api. Api adalah energi, bukan materi. Api sanggup membakar materi apa saja menjadi musnah. Namun, api juga bisa mematangkan apa saja. Api dalam konteks ini bukan dalam pengertian yang destruktif, melainkan konstruktif.

Semangat api yang konstruktif yang harus dimiliki pemimpin, antara lain, adalah kesanggupan atau keberanian untuk membakar atau melenyapkan hal-hal yang menghambat dinamika kehidupan, misalnya sifat angkara murka, rakus, keji, korup, merusak dan lainnya.

Ketiga, air/banyu, adalah watak yang menggambarkan pemimpin harus selalu mengalir dinamis dan memiliki watak rendah hati, andhap asor dan santun. Tidak sombong. Tidak arogan. Sifat mengalir juga bisa diartikan bahwa pemimpin harus mampu mendistribusikan kekuasaannya agar tidak menumpuk/menggumpal yang merangsang untuk korupsi. Selain itu, seperti air yang selalu menunjukkan permukaan yang rata, pemimpin harus adil dalam menjalankan kebijakan terkait hajat hidup orang banyak.

Berdemokrasi

Keempat, watak angin atau udara, watak yang memberikan hak hidup kepada masyarakat. Hak hidup, antara lain, meliputi hak untuk mendapatkan kehidupan yang layak (sandang, pangan, papan, dan kesehatan), mengembangkan diri, mendapatkan sumber kehidupan (pekerjaan), berpendapat dan berserikat (demokrasi), dan mengembangkan kebudayaan.

Surya atau matahari adalah watak kelima di mana pemimpin harus mampu menjadi penerang kehidupan sekaligus menjadi pemberi energi kehidupan masyarakat.

Keenam, watak bulan/candra. Sebagaimana bulan yang memiliki kelembutan menenteramkan, pemimpin yang bijak selalu memberikan rasa tenteram dan menjadi sinar dalam kegelapan. Ia harus mampu memimpin dengan berbagai kearifan sekaligus visioner (memiliki pandangan jauh ke depan); bukan memimpin dengan gaya seorang tiran (otoriter) dan berpikiran dangkal.

Lalu watak ketujuh dalam kearifan Jawa adalah bintang/kartika. Sebagaimana bintang menjadi panduan para musafir dan nelayan, pemimpin harus mampu menjadi orientasi (panutan) sekaligus mampu menyelami perasaan masyarakat.

Dan akhirnya, Jawa menuntut seorang pemimpin mesti memiliki watak langit atau angkasa. Dengan watak ini, pemimpin pun harus memiliki keluasan hati, perasaan, dan pikiran dalam menghadapi berbagai persoalan bangsa dan negara. Tidak sempit pandangan, emosional, temperamental, gegabah, melainkan harus jembar hati-pikiran, sabar dan bening dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Bukankah inti atau substansi pemimpin adalah pelayan? Pemimpin yang berwatak juragan adalah penguasa yang serba minta dilayani dan selalu menguasai pihak yang dipimpin.

Indra Tranggono Pemerhati Kebudayaan dan Cerpenis,